Kisah Kasih di Masa Remaja dan Ambisi karena Cinta
Judul: Whisper of The Heart
Produksi: Studio Ghibli
Sutradara: Yoshifumi Kondo
Penulis: Hayao Miyazaki
Tanggal Rilis: 15 Juli 1995
“Ia bertemu laki-laki itu di buku sejarah. Lalu mereka kencan di kedai.”
Ekspresionline.com–Kutipan di atas adalah lirik pembuka lagu bertajuk “Selat, Malaka” dari album NKKBS Bagian Pertama karya Melancholic Bitch. “Selat, Malaka” merupakan lagu yang secara puitis mengisahkan pertemuan seseorang dengan Tan Malaka, tokoh pergerakan Indonesia yang dianggap sebagai kekasihnya, melalui buku sejarah.
Premis serupa juga terjadi dalam film animasi Whisper of The Heart (1995) karya Yoshifumi Kondo. Whisper of The Heart mengisahkan Shizuku Tsukishima, anak perempuan sekolah menengah pertama yang menyukai orang lain melalui buku-buku yang ia pinjam dan baca dari sebuah perpustakaan. Suatu hal yang tidak istimewa sebenarnya, wajar jika orang mengagumi seorang tokoh atau penulis melalui buku. Sama halnya dengan orang yang suka musik dan mengagumi musisi dari lagu-lagunya.
Uniknya adalah dalam Whisper of The Heart, Shizuki tidak tertarik dengan penulis atau tokoh dalam buku yang ia baca, seperti dalam lagu “Selat, Malaka”. Melainkan dari nama seseorang yang selalu tertera di daftar peminjaman buku-buku yang ia pinjam. Orang tersebut adalah Seiji Amasawa, laki-laki misterius yang beberapa tahun lebih tua dari Shizuki.
Ketertarikan Shizuki dengan Seiji yang namanya selalu muncul dalam daftar peminjaman buku perpustakaan menjadi daya tarik tersendiri dalam film ini. Yoshifumi membuat tokoh Shizuki berbeda dari remaja lainnya. Ketika teman-temannya yang sedang melewati masa puber mulai menyukai seseorang, Shizuki lebih menyukai buku-buku. Ketika teman-temannya berlomba-lomba mempercantik diri, Shizuki seakan tak peduli dengan tubuhnya. Ia justru sibuk di perpustakaan dengan segudang buku bacaan.
Meskipun Shizuki kutu buku, bukan berarti ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan, Tsukisima menjadikan Shizuki sebagai teman dan tempat curhatnya ihwal asmara.
Berbeda dengan kisah remaja dalam Submarine (2010) karya Richard Ayoade. Oliver Tate (Craig Roberts) dalam Submarine adalah anak kutu buku yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia dikucilkan teman-teman sekolahnya karena terlalu asyik membaca buku karya Shakespeare, Salinger, Nietzsche, dan Jung di usia yang baru 15 tahun.
Kendati Shizuki tetap menjalin aktivitas sosial dengan teman-temannya, Yoshifumi ingin menggambarkan bahwa Shizuki sebenarnya kesepian.
Sepanjang film tidak ada teman-teman Shizuki yang tertarik dengan buku, kecuali dirinya. Shizuki memang pendengar yang baik, kedewasaannya sudah terlihat ketika ia masih remaja. Namun, di lain sisi, tak ada yang bisa atau mau mendengarkannya. Tidak ada teman-teman yang dapat diajak berdiskusi tentang apa yang ia sukai dalam buku-buku. Ia pun merasa kesepian, setidaknya dalam berbagi bacaan.
Ketika melihat ada seseorang yang memiliki referensi bacaan yang sama secara berturut-turut, persepsi yang muncul di penonton adalah Shizuki ingin memiliki seseorang yang dapat diajak diskusi ihwal buku dan segala isinya. Benar adanya Shizuki merasa penasaran dan terus membaca buku-buku yang di daftar peminjamnya terdapat nama Seiji.
Di perempat awal film, Shizuki dan Seiji pun bertemu. Di bagian ini Yoshifumi mencoba memasukkan unsur-unsur romantis, dengan menjadikan Shizuki dan Seiji saling menyukai. Alhasil, Shizuki tidak hanya menemukan teman diskusi tentang buku, tetapi ia juga menemukan cinta pertamanya. Seperti kata pepatah, “sambil menyelam minum air”, Shizuki dan Seiji pun berliterasi sambil menjalani kisah asmara.
Film ini ditutup dengan Seiji yang melamar Shizuki di sebuah bukit ketika matahari terbit. Adegan yang teramat romantis bagi remaja. Mereka baru belasan tahun, tetapi sudah berani berbicara sesuatu yang cukup sakral yaitu pernikahan. Yoshifumi sepertinya tidak memandang usia sama sekali dalam kisah romantis kali ini. Ia ingin melawan stereotip bahwa anak remaja belum cukup dewasa untuk memahami ihwal cinta. Kisah kasih remaja tidak hanya cinta monyet, yang mana penuh dengan kelabilan, keluguan, ketidaktahuan, dan coba-coba.
Ini mengingatkan saya dengan 5 Centimeter Per Second (2007) karya Makoto Shinkai. Film yang menceritakan kisah kasih remaja antara Takaki Toono dan Akari Shinohara ini begitu romantis. Ada janji antara mereka, yaitu tidak ada yang boleh meninggalkan satu sama lain meskipun jarak membatasi. Tetapi toh, akhirnya mereka tidak pernah bersama kembali sejak pertemuan terakhir di masa remaja. Tak bisa dimungkiri mereka masih remaja, sekuat apa pun janji, tak ada jaminan bahwa mereka akan bersama ketika dewasa.
Begitu pula dengan Shizuki dan Seiji dalam Whisper of The Heart. Tak ada jaminan mereka akan menikah di kemudian hari, kendatipun sudah ada perjanjian di antara keduanya. Di tambah Seiji harus pergi ke luar negeri dan meninggalkan Shizuki selama beberapa tahun.
Barangkali stereotip itu tepat, mereka hanyalah remaja yang penuh kelabilan. Namun, tidak menutup kemungkinan juga cinta pertama Shizuki di masa remaja juga menjadi cinta terakhirnya.
Cinta dan Ambisi
Ghibli kerap kali menyajikan permasalahan seperti lingkungan, kekerasan, hingga pendidikan. Dengan mengusung konteks percintaan yang tidak hanya dijadikan sebagai pemanis cerita, tetapi fondasi utamanya.
Seperti Spirited Away dan Princess Mononoke (1997) yang membawa isu lingkungan, Howl’s Moving Castle yang berisi penentangan terhadap kekerasan dalam peperangan. Begitu pun dengan Whisper of The Heart, Yoshifumi ingin membawa isu pendidikan dalam film ini. Sementara kisah cinta Shizuki dan Seiji menjadi tulang punggung ceritanya.
Dalam Whisper of The Heart, buku dan perpustakaan ternyata bukan hanya mengantarkan pembaca menuju dunia pengetahuan yang begitu luas. Cinta pun dapat bersemai melalui buku di perpustakaan, bahkan di tempat yang jarang diperhatikan oleh para peminjam buku.
Kisah asmara Shizuki dan Seiji dijadikan Yoshifumi sebagai pintu masuk bagi penonton untuk memahami masalah pendidikan dalam film ini. Shizuki berambisi untuk menjadi seorang penulis karena ada rasa kompetitif terhadap Seiji yang ingin belajar di luar negeri sebagai pengrajin biola. Ada rasa kurang percaya diri dari Shizuki ketika melihat Seiji yang memiliki keterampilan, sedangkan dirinya merasa tidak memiliki bakat apa pun.
Alhasil, karena ingin menghilangkan rasa minder, Shizuki harus mengejar impiannya menjadi penulis. Ia mengejar ketertinggalan dengan berusaha menulis sebuah novel dalam waktu kurang dari satu bulan. Cukup mengejutkan memang, seorang remaja memiliki ambisi yang begitu besar karena adanya rasa cinta.
Kisah cinta yang lucu sekaligus mengesankan. Hanya karena cinta, Shizuki harus bersusah payah untuk menulis novel. Terlebih ia merelakan waktu belajarnya dan tidak memedulikan ujian sekolah yang sedang berlangsung. Namun, bukankah menulis masuk dalam hal belajar juga? Shizuki melakukan riset terlebih dahulu soal penggarapan novelnya. Ia harus membaca banyak buku non-fiksi untuk memperkaya imajinasi.
Sementara itu, sekolah tak pernah memfasilitasi Shizuki dalam kegiatan menulisnya. Ia hanya dituntut untuk mendapatkan nilai bagus supaya dapat masuk SMA favorit. Jika nantinya Shizuki menjadi penulis besar, kisah cintalah yang membuatnya demikian.
Whisper of The Heart menjelaskan bahwa cinta dapat mendorong seseorang untuk berambisi meraih cita-citanya. Sedangkan dalam Submarine, cinta dapat berujung ambisi bunuh diri.
Reza Egis
Editor: Arummayang Nuansa Ainurrizki
