/

Kisah Seorang Avonturir Buku

Ilustrasi Danang/EKSPRESI

Informasi Buku

Judul: Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu

Penulis: Polycarpus Swantoro

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal: XXV + 436 halaman

Ekspresionline.com – Melalui karyanya, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Polycarpus Swantoro menjelma avonturir. Namun bukan ruang yang ia jelajahi, melainkan waktu. Dari Hindia Belanda di bawah pemerintah koloni, pandangan-pandangan orientalis, persoalan komunisme, serta romantika para pendiri bangsa. Dari buku-buku zaman kerajaan seperti kitab Negara Kertagama dan Pararaton, buku era pergerakan nasional seperti Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka sampai Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno. Kesemuanya ia runtut melalui buku, berkat pengetahuannya yang ensiklopedis. Tengok saja bibliografinya, sungguh kaya.

Tidak kurang dari 200 buku diceritakan di sini dengan cara yang demikian rupa, sehingga tampil seolah-olah pribadi yang hidup: bagaimana buku lahir, berkembang, bergerak, dan menggerakkan sang pencerita dalam kegiatannya sehari-hari.

Memang tidak setiap buku diulas tuntas dalam satu bab. Beberapa bab malah berisi ulasan yang campur baur dari sejumlah buku. Namun kita tetap bisa mengikutinya karena gaya penulisannya yang luwes dan mengalir. Bahkan tanpa membaca buku-buku aslinya, pembaca sudah mendapatkan banyak hal tentang buku-buku yang dibahas dalam buku ini.

Menurut Jakob Oetama dalam kata pengantarnya di buku ini, Swantoro adalah titik temu antara sejarawan dan wartawan. Berlatar belakang lulusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada pada tahun 1964 dan salah satu wartawan senior harian Kompas, Swantoro memadukan sejarah dengan jurnalistik. Swantoro adalah sejarawan yang mencintai buku, sekaligus wartawan yang ingin menceritakan buku-bukunya kepada khalayak.

Buku Melahirkan Buku Lainnya

Melalui karyanya, mantan Wakil Pimpinan Redaksi Harian Kompas (1966-1989) ini ingin menjelaskan pula bahwa selalu ada hubungan antara satu buku dengan buku lain—itu yang tersirat dari buku ini. Dalam buku ini, menulis dapat dilihat sebagai akibat dari membaca. Yang dituturkan di dalamnya adalah pengalaman sang penulis sewaktu membaca buku-buku yang dicari, dikumpulkan, dan dicintainya.

Swantoro, kolektor buku yang berlatar belakang pendidikan di bidang sejarah itu, mengistilahkan pengalamannya sebagai “perkelanaan memori”. Dari “perkenalan memori” inilah yang membuatnya melakukan “perkenalan pustaka”. Jadi, buku-buku penting yang dibicarakannya adalah yang melekat erat pada ingatannya.

Tidak ada buku yang hadir begitu saja, karena memang tidak ada penulis yang tidak terpengaruh oleh buku-buku bacaannya. Misalnya, buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles, menurut Swantoro gaya dan kerangka kepenulisan buku tersebut amat mirip dengan The History of Sumatra karya William Marsden. Perbedaannya, jika History of Java kaya akan ilustrasi, History of Sumatra tidak ada ilustrasi sama sekali. Setelah ditelusuri, pada bab “Terpesona Hindia Pribumi,” Mardsen-lah orang yang pertama kali diberitahu oleh Raffles soal keinginannya menggarap buku History of Java.

Lantas kenapa Marsden yang pertama kali diberitahu oleh Raffles? Apa pengaruhnya Marsden terhadap penggarapan History of Java? Ternyata Raffles telah membaca dan mencermati buku History of Sumatra sebelum ia memutuskan untuk menggarap bukunya. Lebih jelasnya lagi dijelaskan pada buku Nusantara: Sejarah Indonesia karya sejarawan Bernard H.M. Vlekke, dengan judul asli Nusantara: A History of Indonesia yang terbit pada 1943.

Tepat di halaman 252 buku Nusantara: Sejarah Indonesia, Vlekke menjelaskan bahwa Raffles memaksudkan bukunya nanti akan seperti karya Marsden. Buku itu akan menggambarkan secara lengkap Pulau Jawa: iklimnya, penduduknya, peninggalan masa silamnya, dan sejarahnya. Tetapi, berbeda dengan Marsden yang menulis secara saintifik, karya Raffles adalah campuran dari deskripsi ilmiah, apologi, dan pelaporan lapangan.

Marsden adalah seorang orientalis, linguis, dan numismatis keturunan Inggris asal Irlandia. History of Sumatra-nya Marsden menjadi kiblat bagi Raffles, karena latar belakangnya sebagai birokrat Inggris mirip dengan Raffles. Buku Marsden itu terbit pada 1783. Sedangkan History of Java terbit pertama kali pada 1817.

Tidak heran jika judul buku ini Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu. Pasalnya, sebuah buku ketika dibaca akan membentuk wacana di dalam kepala setiap pembacanya. Wacana-wacana yang terkumpul tersebut akhirnya dapat dituangkan dalam sebuah buku yang baru, seperti yang dilakukan Raffles. Dari satu buku melahirkan buku lainnya, sambung menyambung menjadi satu.

Sebuah buku memengaruhi seorang penulis. Bagaimana proses setiap orang dalam menulis, berarti bagaimana pula orang tersebut membaca. Permasalahan dalam menulis berarti juga permasalahan dalam membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula tulisan yang bisa dihasilkan. Jelas bahwa menulis adalah akibat dari membaca. Swantoro tidak mungkin bisa menjadi wartawan senior harian Kompas dan menulis buku ini, jika ia minim bacaan.

Akan tetapi bagaimana proses Swantoro merampungkan buku ini? Dalam kata pengantarnya, ia menjelaskan, ada lebih dari dua ratus buku yang ia jadikan sumber. Bagaimana bisa ia mengutip banyak isi sebuah buku dengan tepat, beserta halaman, dan penulisnya? Bahkan tidak jarang juga memberikan informasi kapan dan oleh percetakan mana sebuah buku diterbitkan. Ini masih ditambah dengan analisis dan pendapat Swantoro. Belum lagi yang ia jadikan sumber adalah buku-buku yang sangat lawas, tak jarang juga buku-buku berbahasa Belanda.

Bagaimana cara Swantoro membaca setiap buku miliknya? Apakah dia menuliskan atau menandai bagian-bagian penting dalam sebuah buku? Jika memang benar seperti apa yang dikatakannya dalam kata pengantar, bahwa ia menuliskan buku ini berdasarkan memori kepalanya, berarti ia adalah pembaca yang benar-benar tekun dan sanggup memanajemen ingatannya dengan baik.

Sejak kecil ia memang telah menyukai buku. Ketika duduk di sekolah rakyat ia terkesan dengan buku-buku berbahasa Belanda yang bergambar dan berwarna milik ayahnya, kendati bahasanya ia belum mengerti. Kenangan akan buku-buku itu terpatri puluhan tahun di otaknya.

Pada 1994 ia tak bisa menahan kerinduannya pada buku-buku tua Belanda tersebut. Kepada tetangganya, Bunyamin Wibisono yang punya hobi berburu buku tua, Swantoro berpesan agar dicarikan buku yang dia maksud.

Dalam seminggu buku itu ditemukan, judulnya Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie atau dalam bahasa Indonesia berjudul Ensiklopedi Bergambar Hindia-Belanda. Buku itu disusun G. F. E. Gonggryp, W. K. Boogh, E. A. Douglas, G. J. du Marchie Sarvaas, A. Neijtzell de Wilde, dan J. Th. Petrus Blumberger. Buku itu diterbitkan di Leiden, Belanda, pada 1934 oleh NV Leidsche Uitgeversmaatschappij.

Dalam liputan pantau.or.id pada 2002, Swantoro menjelaskan bahwa ketika menulis ia tidak pernah membuat konsep terlebih dahulu, termasuk menulis buku ini. Menurutnya jika membuat konsep terlebih dahulu, ketika proses menulis isi tulisannya tidak sesuai dengan konsep awal. Hal inilah yang akhirnya menciptakan tema-tema dalam buku ini tidak berurutan. Awalnya ia menulis tentang buku yang membuatnya mencintai buku, kemudian mengalir begitu saja dan saling berkaitan dengan buku-buku selanjutnya.

Memang buku ini tidak begitu runtut dalam menjelaskan keterhubungan antar tiap bab dan tema. Di bagian awal saja, bab pertama tidak ada hubungannya dengan bab selanjutnya. Tidak ada hubungannya antara gambar-gambar lambang daerah pada masa kolonial Belanda dengan PKI.

Namun, seperti judul buku ini, Swantoro berhasil mengaitkan tema yang berbeda menggunakan buku. Untuk bagian awal tersebut, ternyata penyusun terakhir buku Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie yang berisi lambang-lambang daerah pada masa kolonial Belanda pada bab pertama, merupakan penulis buku pertama tentang PKI di Hindia-Belanda. Buku tersebut berjudul De Communistische Beweging in Nederlandsch-Indie, yang ditulis oleh J. Th. Petrus Blumberger.

Pembaca buku ini akan tergerak untuk ikut mencari-cari dan membaca buku-buku yang pernah dibaca Swantoro. Begitulah sebuah buku yang bak harta karun, ia membuat pembaca semakin ingin terus menggali dan membaca buku-buku yang lainnya, terus mencari (pengetahuan) tanpa henti. Paling tidak, kita jadi mengetahui ada buku-buku serta naskah-naskah agung dari zaman dulu yang mungkin kita belum berkesempatan untuk membacanya.

Reza Egis
Editor: Ikhsan A.H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *