Masak dalam Mimpi
Oleh Muhammad Lutfi
(Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)
Masak dalam Mimpi
Seorang ibu dengan tangan basah dan gemetar
Memasukkan jari-jemarinya kedalam panci
Tangisnya menyalakan bara api
Di pangkuannya
Diaduknya lembut dan berputar-putar butiran beras
Dari lumbung yang sudah terbakar
Sementara anaknya menangis dan memegang pasak dan pisau dapur
Ditusukkan pada parit-parit tanah
Mata mereka sudah tak kuasa menahan beban
Keringatnya sudah habis sejak kemarin
Karena nasi tak kunjung datang
Surakarta, 22 November 2016
Gerobak Kehidupan
Sudah usang tralis besi di lengannya
Setiap didorong dan diajak berjalan
Kotak berisi kaleng dan plastik sudah amis dan karatan
Rodanya kembang kempis
Terpukul kerikil dari aspal
Catnya sudah kusam dan tua
Gerobak ini sudah sekarat, dia hampir tak kuasa pada penderitaannya
Surakarta, 22 November 2016
Tikar Pedagang Asongan
Di kaki paving-paving yang berlubang
Semut hitam berak dan meludah
Di halaman toko dan pastoran
Sepatu dan sandal tak bernyawa
Disulap jadi sepasang alas kaki
Kaki-kaki yang penuh memar dan memerah
Menginjak-injak tikar para pedagang asongan
Bahkan juga sepatu para saudara
Sempat mampir ke tikar pedagang asongan
Hingga seluruh tepian tikar penuh sobek dan jahitan
Surakarta, 22 November 2016
Lagu Pengaduan Pengamen Cilik
Jreng…. Jreng…
Aku hanya bisa menampar perut dan dada
Jreng….jreng….
Aku hanya bisa menikmati kertas para anak sekolah
Yang dengan santainya mereka bersembunyi dan petak umpet di balik kios-kios
Nasib mereka jadi umpatan masa depan
Jreng….. jreng……
Aku mengusik bulan dan tidurnya burung malam
Agar mereka setia menemaniku
Surakarta, 22 November 2016
Lesu Orang Pasaran
Di depan kaca angkot mereka berdiri lantang
Tubuhnya mengguncang seluruh penumpang
Teriakannya sambil memegang dagu sopir angkot
Dan memasukkan uang recehan atau ribuan yang terlekuk ke dalam jaket di dadanya
Segera dihantarkan separoh setoran dan separoh gajinya untuk anak dan istrinya
Supaya bibir mereka diam seribu kata
Melihat suaminya melayangkan teriakan pada sopir-sopir angkot di dekat rumahnya
Surakarta, 22 November 2016
