/

Menjelajahi Labirin Katedral Mawar sebagai Vampir Neoklasik Selama Lima Puluh Menit

Ilustrasi oleh Nisrin/EKSPRESI.
Ilustrasi oleh Nisrin/EKSPRESI.

Judul: Bara no Seidou; Church of Roses

Artis: Malice Mizer

Genre: Neoclassical, dark wave, industrial, ethereal, gothic rock, gothic metal

Tahun Rilis: 2000

Ekspresionline.com–Suatu malam, setelah menamatkan serial animasi Castlevania, segumpal darah saya yang terbuat dari tanah ini tiba-tiba tergugah. Saya cukup tersihir dengan mengamati Alucard, si karakter utama, yang merasakan dinamika kehidupan dhampir selama ratusan tahun. Tak perlu banyak berpikir, sebuah keinginan konyol dengan persentase capaian yang mustahil muncul di benak saya: keinginan untuk menjadi seorang vampir. 

Saat sedang menggulir linimasa Twitter (yang kini disebut X), saya mendapati nama Malice Mizer berseliweran di antara tumpukan gambar Alucard—sebuah perjumpaan yang tidak mengejutkan. Band ini termasuk dalam subkultur visual kei—band asal Jepang dengan kostum dan riasan panggung yang menonjol—subgenre tanbi kei. Lagu terkondang mereka, ”Gekka no Yakusoku”, terdengar familiar di telinga akibat sering muncul dalam anime edits yang lewat di beranda. Seketika itu juga, segumpal besar darah vampir konyol saya bergumam, “ah, soro-soro jikan da.”

Sedikit demi sedikit, saya berkenalan dengan band yang sudah tak lagi aktif ini. Estetika Malice Mizer kontras dengan beberapa band dan figur visual kei yang lebih dulu saya kenal, seperti Yoshiki dari X Japan, Hyde dari L’Arc-en-Ciel, Jiluka, maupun gulu gulu. Layaknya karakteristik subgenre tanbi kei, mereka tampak lebih ikonik dengan kemegahan fesyen era Rococo, Baroque, dan Victoria. Salah satu daya tarik paling magis dari band ini adalah sosok Mana-sama—gitaris sekaligus produser utama yang sering mengenakan pakaian gothic lolita dan secara konsisten minim mengeluarkan suara. 

Setiap hari berlalu tanpa absennya nama band tanbi kei itu di Listening history akun SoundCloud saya. Satu demi satu diskografi mereka saya selami; mulai dari yang tertua—album demo bertitel Sans Logique (1992) dengan vokal Tetsu, vokalis pertama mereka. Selanjutnya, karya yang terakhir dirilis pada 2001 adalah non-album single bertajuk Garnet (Kindan no Sono e) dengan vokal Klaha, vokalis terakhir mereka. 

Dari sembilan tahun perjalanan Malice Mizer, satu album yang paling kuat menggenggam darah vampir konyol saya adalah Bara no Seidou (2000). Meskipun sempat berebut tempat kategori Top Album di SoundCloud Wrapped 2025 lalu dengan Voyage Sans Retour (1996), album biru ini tetap nangkring tertinggi di sana. Seluruh lagu di album ini ditulis oleh dua pengusung Malice Mizer: delapan dari sepuluh ditulis oleh Mana, dua sisanya digarap oleh Közi. 

Album biru ini dibuka dengan “Bara ni Irodorareta Akui to Higeki no Makuake; A Prelude of Malice and Mizery, Painted by the Rose”. Meskipun judulnya yang terpanjang, lagu ciptaan Mana ini merupakan sebuah prelude instrumental tanpa lirik yang hanya berdurasi 29 detik. Selama durasi singkat itu, pendengar, manusia biasa yang baru saja berubah jadi vampir seolah dipersiapkan—dibukakan dengan lebar untuknya gerbang Katedral Mawar, sebuah bangunan misterius mirip Katedral St. Vitus di Praha, Republik Ceko.

Katedral St. Vitus di Praha, Republik Ceko. 
Sumber: arcanum advanæ

Sebentar, mengapa pendengar jadi vampir? Jujur saja, sel-sel darah saya meraung seolah menyuruh saya mempertimbangkan sesuatu. Bagaimana jika pendengar berperan sebagai vampir baru yang tersesat di dalam labirin? Lalu, mengapa labirin?

“Seinaru Toki Eien no Inori; Sacred Time, Eternal Prayer” kemudian menyusul dengan intro yang mampu menggelitik setiap sel darah—baik merah maupun putih. Raungan organ pipa menyambut si Vampir Konyol ketika memasuki katedral, mengiringi setiap gesekan ujung jari dengan dinding labirin bersama dengan kor, bergantian dengan vokal Klaha dan Maki Okada. Selama delapan menit empat belas detik, vampir itu menelusuri lorong masuk labirin katedral gelap, hanya ditemani secercah cahaya rembulan dan nyala lilin-lilin kecil. Selama itu pula, setiap sel darah vampir konyol ini saling berpelukan. Mereka memanjatkan doa, lalu meletakkan persembahan mawar dengan hiasan jaring laba-laba sebagai sebuah rekuiem berlatarkan guntur yang menggelegar.

“The darkness illuminated by the sacred light and garnished with roses

tells the eternal time that is offering a requiem and a prayer of reunion.”

Lagu ketiga, “Kyomu no Naka de no Yuugi; Amusement in Nihilism”, membawa si Vampir Konyol ke suatu “sudut kebingungan”—ia terjebak di antara delusi dan kenyataan. Suara pecahan kaca terdengar, seakan menggambarkan kondisinya yang terpecah pula. Bayangan seseorang tampak, membuatnya ketakutan dan berlari ke sudut labirin lainnya. 

Bayangan itu adalah gambaran masa lalu kelamnya, sesuatu yang ingin ia buat hancur seperti kaca yang pecah di intro lagu, tetapi terus diingatkan dengan seruan “reminiscence” oleh Youko Takai di setiap baitnya. Meskipun berlari menjauh, ia tak bisa benar-benar kabur. Selama dikejar sang Bayangan hingga menemui cahaya kecil dari sekumpulan lilin di tengah sebuah ruangan, keinginannya hanya satu. Ketika itu, si Vampir Konyol hanya ingin hilang ke dalam kekosongan.

Sekumpulan lilin di tengah ruangan labirin dalam musik video “Kyomu no Naka de no Yuugi”. 
Sumber: YouTube LilyoftheDarkRealms

“Slimy hole bind detain insane sensual

Surge vague twine assault mind

(Crumbling forms are closing in towards me

I wish everything would collapse and scatter away)”

Lagi, namanya juga keinginan sesosok vampir konyol. Kor dan piano, serta segala macam organ yang mengalun dengan ritme naik turun itu seakan hanya menjadi latar belakang dirinya melawan sesosok final boss dalam gim retro. Seperti apa wujud final boss itu? Ia adalah bayangannya sendiri dari masa lalu yang kini dihadapinya selama enam setengah menit. Yah, bayangan yang disangkuti jaring laba-laba sana-sini.

“What you can now see is an illusion of your mind—it guides you

If you cut this thread—the exit for the labyrinth will be there

And as you let go of time—that is when destiny’s voice will lead you”

Si Bayangan kemudian dijelaskan sebagai ilusi yang membuatnya terjebak dalam labirin. Dalam trek keempat, “Kagami no Butou Genwaku no Yoru; Mirror Dance, Night of Bewitchment”, ilusinya berubah menjadi sesuatu yang muncul pada cermin-cermin. Cahaya menari-nari di dalamnya, diiringi dengan alunan melodi nostalgik, nyanyian kor, serta vokal Klaha yang beberapa kali tenggelam di balik distorsi. Ada tantangan bagi si Vampir Konyol dalam durasi kurang dari empat menit itu: tantangan untuk memutus ilusi sehingga vampir itu bisa keluar dari labirin. Jika lagu pertama hingga ketiga ditulis oleh Mana, berbeda dengan sebelumnya, lagu ini ditulis oleh Közi.

Dengungan organ pipa dalam intro “Mayonaka ni Kawashita Yakusoku; Promises Exchanged at Midnight” kemudian menyambut si Vampir Konyol dalam perjalanannya keluar dari labirin. Ia teringat sesuatu, merasakan sebuah deja vu—akan sebuah janji yang terucap pada sebuah malam. Entah ingatan siapa yang ada di pikirannya itu.

Sosok vampir ini muncul bukan tanpa alasan; ia berpijak pada lagu “Mayonaka ni Kawashita Yakusoku; Promises Exchanged at Midnight” yang diadaptasi menjadi sebuah film tanpa dialog sepanjang kurang lebih satu jam bertajuk “Bara no Konrei – Mayonaka ni Kawashita Yakusoku” (2002). Dalam film itu, Klaha, Terumi Nagayoshi, Mana, Kozi, dan Yu~ki memainkan dongeng dengan jalan cerita serupa kisah fiksi Drakula karya Bram Stoker. Jadi, mengapa vampir? Yah, terserah saya. 

Klaha sebagai protagonis di “Bara no Konrei – Mayonaka ni Kawashita Yakusoku” dalam musik video “Mayonaka ni Kawashita Yakusoku”
Sumber: YouTube MALICE MIZER

Kembali lagi ke si Vampir Konyol, entah ingatan siapa yang ada di pikirannya. Organ pipa yang mengalun kemudian seolah membawanya merenung. Warna di sekelilingnya berganti, bersamaan dengan harapan yang mulai tenggelam. Vokal Youko Takai dan suara kor lantas menutup lagu, juga renungannya saat itu.

“Chinurareta Kajitsu; Blood-stained Fruit” tiba-tiba mengalun dengan suasana aneh. Saat sebelumnya si Vampir Konyol berada di labirin kosong dengan Bayangan, lilin, dan cermin, kini ia berpindah. Ia melihat darah-darah saling tumpah. Di antara genangannya, tergeletak buah berwarna merah. Merahnya bukan hanya karena warna alami kulit buah itu, tetapi juga karena darah yang menodainya. Setidaknya, lanskap itu yang tertangkap di mata si Vampir Konyol yang belum lama ini berubah. 

“As seen by the human eyes

A massacre starved for blood

The desire place”

Di tengah suasana kacau itu, anehnya, selama empat menit, ia menemukan ketenangan. Melodi energetik dan lirik yang repetitif kemudian mengiringi setiap hembusan napasnya. Dengan latar belakang teriakan dan kebingungan, ia terdiam. Dentuman perkusi bersahutan dengan jantung yang juga berdentum tanpa kesabaran. Jika keputusasaannya turut hilang, maka yang tersisa—lagi-lagi—hanyalah kekosongan. Namun, bukankah hal ini adalah sesuatu yang ia, si Vampir Konyol, inginkan sebelumnya?

“A vision of sneering madness

A death cry, struggling and twisting

Sweet blood”

Akhirnya, si Vampir Konyol menemukan jalan keluar. Di “Chikasuimyaku no Meiro; Labyrinth of Underground Rivers”, ia menemukan sebuah tangga spiral menurun—jalan menuju labirin lain. Kali ini, semuanya lagi-lagi dipenuhi dengan kabut. Semakin dalam vampir itu memasuki labirin, semakin dalam pula ia jatuh ke dalam kesunyian. Persepsinya akan kehidupan dan kenyataan semakin menipis. Nyaris saja ia hilang ditelan kegelapan jika sebuah cahaya super terang tidak tiba-tiba muncul dengan gagahnya, sekelebat, lalu menghilang.

Labirin itu membasahi kesadarannya. Lagi, dalam kegelapan, ia berusaha untuk tidak membiarkan dirinya tenggelam. Kantuk dan lelah datang, terus datang dan ditemani oleh kegelapan yang basah nan dingin. Lima setengah menit berlalu, si Vampir Konyol berusaha melawan, ia terus berjalan.

“Like a drop, I fell and dissolved

Whisper of mind leads me

All is somnolence in this realm everlastingly

“The subterranean space where silence dwells

It gradually extinguishes my perceptions”

Seperti lagu keempat, lagu ini juga ditulis oleh Közi. Secara pribadi, saya menganggap lagu ini salah satu yang paling majestik setelah “Seinaru Toki Eien no Inori; Sacred Time, Eternal Prayer”. Selain karena melodi dan alunan organ yang tenang tetapi juga megah, monolog lembut dan sopran Youko Takai semakin menambah nilai superior lagu ini. Suatu hari, saya mendengarkan lagu ini sebanyak lebih dari tiga puluh kali, terus berputar, hingga menjadi lagu top di akun Airbuds saya, mengalahkan “Itsuwari no Musette”.

“Hakai no Hate; Blasphemy’s Culmination” menjadi jawaban atas cahaya yang terus didambakan. Si Vampir Konyol yang terus terjebak kini mendapatkan harapan. Ia berpegang pada harapan itu untuk terus berjalan maju. Dilepaskannya pikiran yang mengganggu, diabaikannya bisikan yang entah dari mana datangnya, dan dibangunkannya keinginan untuk menyembuhkan rasa sakitnya selama ini. Ia meregangkan kedua tangannya yang dingin, dibiarkannya setiap pembuluh darah mengalir kembali tanpa dihambati beku. Meskipun diiringi dengan melodi kasar, jalannya tetap berjalan dengan gangsar.

“Spread your invisible wings at the moment you fly away

This false jail collapses and takes in the stillness around you

“…The sorrow suddenly turns into kindness”

Medan perjalanan si Vampir Konyol kemudian berubah jadi naik-turun tak menentu. Raungan organ pipa, dentang lonceng, serta instrumen rock tradisional saling bersahutan. Langkah kaki terkadang terasa berat dengan levitasi lantai yang kentara. Labirin katedral itu berubah menjadi ruang aneh penuh ilusi dengan air hujan yang datang berjatuhan bersama dengan angin kencang yang menusuk. Pepohonan di hutan ilusi tampak menjulang di segala sisi. Di sela-sela dedaunannya, cahaya rembulan yang menggelap jatuh merasuk. Melodi gitar dan violin kemudian datang dan pergi, seperti angin yang kemudian terasa sangat menusuk hati. 

Bayangan yang telah ditinggalkannya di trek ketiga, kini muncul kembali. Ia mengintip di balik semak yang saling membelit dengan mawar. Guntur lagi-lagi meraung, tetapi si Vampir Konyol tidak merasa takut. Alunan organ pipa membawanya untuk terus melangkah dengan dansa. Ketika sekian inci kulit pucatnya tersorot cahaya rembulan lagi, ia melihat harapan. Tampak di ujung netranya seekor kupu-kupu biru terbang mendekat, lalu menjauh. Ia mengikutinya.

“And these shadows are overlapping each other

Tonight, the peal of thunder invites you to the new encounter”

Intro “Saikai no Chi to Bara; The Blood and Rose of Reunion” perlahan terdengar. Si Vampir Konyol menemukan jalan keluarnya, ia melangkah menaiki cahaya yang cercahnya tampak menyilaukan. Pucat penampilannya tak mengurangi binar pada kedua mata. Kupu-kupu biru itu memantulkan cahaya rembulan yang sama birunya. 

Cahaya itu kini tampak dengan nyata. Seribu mawar bermekaran dengan kelopaknya yang semerah darah. Lonceng terus berdentang. Di sela alunan organ yang agung penuh melodi, paduan kor dan biola, bisikan-bisikan kembali datang di telinga. Meskipun terdengar seperti melodi dalam perkabungan dan membawa jiwa yang mati untuk melayang, kali ini, mereka tidak menyesatkan. 

“Sang

Rose

Revoir”

Kupu-kupu biru di lautan mawar dalam musik video “Saikai no Chi to Bara”. 
Sumber: YouTube MALICE MIZER

Tak dapat disangkal, suasana funeral gothic dari Bara no Seidou terasa berat di lagu yang berdurasi lima setengah menit ini. Musik organ mendominasi dengan koda yang terdengar seperti lagu pemakaman, perlahan memudar ke belakang. Trek terakhir ini merupakan versi eksten dari lagu “Saikai”, dalam Extended Play Shinwa, yang dipersembahkan untuk mendiang Kami—drumer Malice Mizer yang meninggal akibat pendarahan subarachnoid. Lagu ini juga merupakan yang pertama yang dikomposisi dalam Bara no Seidou pada 1999. 

Begitulah. Lima puluh menit lebih—perjalanan seorang vampir konyol mengelilingi labirin Katedral Mawar. Labirin yang membawanya kembali melihat ke masa lalu, masa kini, dan mempelajari cara untuk melepaskan hal-hal kelam serta ilusi untuk menapaki jalan terjal ke masa depan. Di bawah cahaya rembulan yang terdistorsi kebiruan, ia bersandar pada dinding yang kini tak lagi terasa begitu dingin.

“En espérant se revoir”

Nisrina Hasna Arista Said

Editor: Aini Rizka Rahmadini


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *