/

Petualangan Si Bocah Pembangkang

Danang/EKSPRESI

Informasi buku

Judul: The Adventure of Tom Sawyer

Penulis: Mark Twain

Penerjemah: Zulkarnaen Ishak

Awal Terbit: 1876

Jumlah halaman: 396 halaman

Penerbit: Immortal Publisher

Ekspresionline.com – Siapa pun tidak ada yang boleh mendikte bagaimana seorang anak berperilaku. Sekali pun itu orang tua, kakak, pengasuh atau siapa pun yang merasa bahwa ia punya hak atas tubuh seorang anak. Setiap manusia harus berkuasa atas tubuhnya, sejak ia anak-anak.

Tidak ada yang bisa mendefinisikan seperti apa anak baik dan nakal itu. Karena setiap anak seharusnya bebas mendefinisikan dirinya. Setiap anak juga yang seharusnya bertanggung jawab atas perilakunya, bukan siapapun.

Seperti itulah kiranya, Mark Twain, sang penulis mengangkat narasi kebebasan seorang anak dalam buku ini, The Adventure of Tom Sawyer. Tom dalam kisah sastra klasik ini diceritakan sebagai seorang anak yang kaya akan imajinasi, sekaligus penuh dengan pembangkangan.

Dengan kekayaan imajinasinya Tom menentang segala aturan-aturan yang diterapkan oleh Bibi Polly, sekolah, dan masyarakat dengan berbagai cara yang begitu cerdas.

Petualangan Tom selalu menimbulkan masalah bagi orang-orang disekitarnya. Dari pura-pura tenggelam di sungai Mississippi, mencuri perahu milik orang lain untuk dijadikan permainan bajak laut, hingga menghilang ke dalam gua selama satu minggu untuk mencari harta karun.

Semua kegiataan petualangannya menghebohkan masyarakat kota Pt Pitersburg, khususnya Bibi Polly, yang kewalahan memikirkan keponakannya. Masyarakat kota Pt Petersburg sampai menutup gua tersebut. Namun, bukan Tom namanya jika tidak mencari jalan lain menuju ke dalam gua. Walau sudah ditutup, Tom masih sering bermain dengan teman-temannya di dalam gua.

Tingkah laku Tom dalam kehidupan sehari-hari juga sangat menjengkelkan orang-orang disekitarnya. Tom adalah anak yang tidak bisa diam, tidak bisa diatur, jauh dari kata sopan santun, dan selalu ingin jahil terhadap siapa pun.

Bahkan pernah suatu ketika pendeta yang sedang memimpin doa di gereja, tidak lepas dari kejahilannya. Sikap Tom itulah yang membuatnya dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Hanya beberapa teman yang sama-sama nakalnya dengan Tom yang mau bermain dengannya.

Tom sebenarnya adalah anak yatim, yang kemudian diasuh oleh Bibi Polly, adik dari ayahnya. Keluarga Bibi Polly sangat taat dengan agama. Peraturan di dalam rumah begitu ketat, Tom setiap hari harus menghafalkan beberapa ayat dalam kitab, pulang sekolah tidak boleh telat, dan tidur malam harus tepat waktu.

Peraturan-peraturan tersebut membuat Tom semakin terkekang dan tersiksa. Karena Tom memang anak yang aktif, suka bermain, bukan penurut.

Rasa keterkekangan tersebut membuat Tom merasa ingin selalu memberontak dan membangkang. Dia seorang anak yang hanya ingin menjalani kehidupan  anak-anak. Bermain sesenang-senangnya. Tom ingin menjadi seekor burung yang terbang bebas di angkasa. Bukan burung yang berada di dalam sangkar.

Berbagai cara Tom lakukan agar tetap bisa bermain dengan bebas. Akal cerdasnya tidak pernah habis. Selalu ada cara cerdik dan licik yang digunakan Tom untuk mengelabui siapa pun mereka yang coba mengekangnya. Dari mengarang cerita, melakukan hal aneh, berpura-pura menjadi anak baik, hingga kabur dari rumah ia lakukan.

Mark Twain mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam. Dari sudut pandang orang tua, bagaimana sepatutnya mereka mendidik anak-anaknya? Apakah suatu kebenaran jika orang tua berhak mengatur-atur dan memerintah anak mereka?

Belajar dari Sebuah Petualangan

Sepanjang cerita dalam novel ini memang menceritakan petualangan Tom yang secara tersirat  berisi pendidikan. Seorang anak bisa belajar melalui alam secara langsung, melalui hutan, gunung, lembah, sungai, dan lautan, itu semua adalah tempat belajar bagi mereka.

Kegiatan sekolah yang kaku membuat Tom membenci kata belajar. Padahal, Tom sebenarnya selalu belajar dengan bermain dan berpetualang. Tom belajar melalui kedua kakinya yang tidak pernah berhenti berlari dan menginjakannya di tempat-tempat baru.

Tom selalu belajar dari kedua tangannya yang tidak pernah berhenti membuat alat-alat bermain yang begitu kreatif. Tom juga selalu belajar dari ide-ide cerdiknya untuk mengelabuhi orang-orang yang coba mengekangnya untuk bermain.

Semua kegiatan dan kenakalan-kenakalan Tom adalah sebuah proses pendidikan. Tidak ada yang bisa mengatur Tom bagaimana seharusnya ia belajar. Ivan Illich, seorang filsuf pendidikan dunia dalam bukunya Deschooling Society, “Sekolah hanya membuat anak belajar tentang dunia, tapi tidak pernah belajar dari dunia.” Dengan petualangannya Tom sebenarnya sudah belajar dari dunia secara langsung. Tidak seperti di sekolah formal yang hanya belajar tentang dunia.

Hari ini kebanyakan orang sudah banyak termakan oleh paradigma pendidikan formal. Mereka menganggap bahwa yang namanya pendidikan atau proses belajar hanya ada dalam pendidikan formal, dalam hal ini sekolah.

Padahal, siapa pun bisa belajar di mana pun, dengan cara apa pun. Setiap orang bebas menentukan cara belajarnya. Seperti Tom yang bebas belajar melalui petualangannya.

Reza Egis

Editor: Danang S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *