Sound of Metal: Mencari Kenyamanan dalam Keheningan
Sutradara: Darius Marder
Produser: Bert Hamelinck, Sacha Ben Harroche, Bill Benz, Kathy Benz
Editor: E.G. Nielsen
Produksi: Caviar, Ward Four, Flat 7 Productions
Sinematografi: Daniël Bouquet
Durasi: 130 menit
Pemeran: Riz Ahmed sebagai Ruben, Olivia Cookie sebagai Lou, Paul Raci sebagai Joe, Lauren Ridloff sebagai Diane, Mathieu Almaric sebagai Richard
Ekspresionline.com–Sinopsis dari Sound of Metal simpel, jelas, dan tidak bertele-tele. Ya, film ini memang bisa dilihat seperti itu; film tentang seorang drummer yang menjadi tuna rungu. Film ini adalah sebuah film dengan tema berat yang tidak hanya soal heavy-metal.
Pertama kali tayang di Toronto International Film Festival 2019 dan rilis secara global di bioskop pada 20 November 2020, film Sound of Metal telah menuai banyak pujian. Film ini menyabet enam nominasi Oscar 2021 dan memenangkan dua di antaranya untuk Best Sound dan Film Editing.
Film ini dimulai dengan suara yang identik dari heavy-metal, keras dan jelas. Ruben (Riz Ahmed) bermain drum dan Lou (Olivia Cookie) bernyanyi sekaligus bermain gitar. Keduanya adalah pasangan yang tampil dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain di Amerika Serikat. Mereka bepergian menggunakan mobil RV.
Pada suatu pertunjukan, Ruben menyadari bahwa ia tiba-tiba tidak bisa mendengar apa pun. Ia pun menemui dokter di pagi harinya dan melakukan beberapa tes. Ternyata hanya 20% pendengaran Ruben yang tersisa. Dokter menyarankan Ruben untuk mempertahankan pendengarannya dengan menjauhi suara-suara keras. Akan tetapi, bagi seorang drummer hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Lou, yang khawatir dengan pendengaran Ruben, ingin mereka berhenti tampil, tetapi Ruben tidak.
Ruben pernah menggunakan narkoba, oleh sebab itu, Lou khawatir bahwa Ruben akan menggunakannya lagi. Ia memanggil sponsor Ruben, Hector. Hector menemukan shelter di pedesaan untuk mantan pecandu narkoba yang tuna rungu yang dijalankan oleh Joe (Paul Raci), seorang mantan alkoholik yang kehilangan pendengaran dalam Perang Vietnam. Ia menawarkan Ruben untuk tinggal di shelter-nya untuk belajar dan beradaptasi menjadi tuna rungu— Lou tidak bisa tinggal bersamanya. Lou setuju, tetapi Ruben menolak, ia ingin terus tampil untuk mendapatkan lebih banyak uang dan menggunakannya untuk implan. Lou kemudian membujuk Ruben untuk tinggal dan Lou pun pergi ke Paris.
Ruben kemudian bertemu dengan anggota shelter. Tugas pertama yang diberikan oleh Joe yaitu untuk “belajar menjadi tuna rungu”. Joe juga mengenalkannya pada guru TK, Diane, dan murid-muridnya yang semuanya tuna rungu dan belajar bahasa isyarat (American Sign Language).
Ruben mulai beradaptasi dengan pendengarannya, ditunjukkan dengan ia belajar bahasa isyarat dan menggunakannya secara aktif dengan murid-murid di sekolah serta berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat bersama anggota lain dari shelter. Ia sudah bisa duduk diam tanpa merasa gelisah, menulis dalam keheningan. Ruben juga mengajari murid-murid TK dan Diane untuk bermain drum.
Joe dan Ruben mengobrol. Joe mengundang Ruben untuk menjadi bagian dari komunitas. Namun, Ruben, yang merasa ia harus bersama Lou untuk tampil, ragu. Ia pun menjual semua peralatan musik drum dan mobil RV-nya sendiri untuk mendapatkan uang demi melakukan operasi implan koklea. Menunggu implannya aktif, Ruben meminta Joe untuk meminjamkan uang kepadanya. Namun, Joe menolak permintaan Ruben. Karena shelter Joe didirikan di bawah keyakinan bahwa tuna rungu bukanlah sebuah kecacatan, Joe meminta Ruben untuk pergi.
Setelah implannya aktif, Ruben mengetahui bahwa meskipun ia bisa mendengar, suara yang ia dengar bukanlah suara yang biasa ia dengar. Suara ini berupa gemuruh, distorsi, dan seperti suara elektronik. Ia pun pergi ke Paris, bertemu ayah Lou dan Lou sendiri.
Ruben dan Lou tahu bahwa hubungan mereka tidak bisa kembali seperti dahulu. Ruben pun pergi dari rumah Lou, dan berjalan-jalan melewati jalanan Paris yang ramai. Ia hanya mendengar suara-suara distorsi dari implan, dan ia pun merasa kewalahan. Ruben duduk di sebuah bangku taman, lalu ia melepas implannya. Ia menerima keheningan, merasa nyaman dan menemukan ketenangan di dalam keheningan tersebut.
Dari judul film ini, kita bisa berekspektasi bahwa film Sound of Metal banyak membahas aspek heavy-metal. Akan tetapi, aspek ini hanya muncul dua adegan di awal film. Ada beberapa cara mengartikan film; yang pertama adalah metal sebagai genre yang Ruben tekuni dan menjadi alasan ia kehilangan pendengaran. Kedua, pada adegan di mana Ruben bermain bersama murid TK di perosotan logam, Ruben mulai menerima kenyataan. Atau, dapat diartikan bahwa suara-suara yang Ruben dengar setelah ia menggunakan implan adalah suara-suara metalik.
Tentu saja, sound design film Sound of Metal sangat menakjubkan. Film ini memiliki suara yang bervariasi, mulai dari suara yang mengikis, distori, hingga suara-suara yang teredam. Sound design film ini meningkatkan keterlibatan sensorik dan indra penonton yang berdampak pada naratif film, terutama pada adegan di mana Ruben pertama kali pergi ke dokter. Pertama, dari perspektif Ruben, kita bisa merasakan perasaan marah dan frustrasi untuk melakukan perintah dokter di saat dia hampir tidak bisa mendengar apa-apa. Dalam adegan ini, penonton berada pada posisi yang sama seperti Ruben. Lalu, kamera berubah ke perspektif Dokter. Kita bisa mendengar dan melihat bagaimana keadaan sebenarnya. Hal ini mengakibatkan emosi penonton berubah menjadi empati dan kesedihan ketika melihat seberapa jauh pendengaran Ruben hilang dan mulai sepenuhnya memahami keseriusan situasi tersebut.
Riz Ahmed memerankan perannya sebagai Ruben dengan luar biasa. Karakteristik Ruben dapat dilihat dari bahasa tubuh dan mata dibandingkan dengan perkataannya. Riz Ahmed di sini sangat menghidupkan karakter Ruben.
Film ini adalah sebuah film yang dewasa dan imersif. Film dengan topik ini, terutama dengan latar belakang Ruben sebagai narkotik, bisa menjadi “cringe”. Akan tetapi, film ini sangat dewasa dalam membahas topik tersebut. Film ini tidak memiliki klise “ini buruk, ini baik”. Itu adalah area yang “abu-abu”, dan film ini menunjukkannya dalam semua aspek dari film, realistis dan jujur.
Hal tidak terduga dari film Sound of Metal adalah film ini membahas banyak mengenai hubungan. Hubungan antara Ruben dan Lou, mulai dari waktu-waktu yang tidak stabil di kehidupan mereka dan mereka saling membantu satu sama lain untuk memiliki pemikiran yang sehat. Akan tetapi, seiring perjalanan, mereka berada pada tempat yang berbeda dan adanya pengertian satu sama lain bahwa hubungan mereka tidak akan lagi sama. Pilihan mereka untuk berpisah menunjukkan personal growth, bagi Ruben dan Lou.
Akhir dari film ini juga bisa diartikan sebagai awal. Sebab, akhir dari film ini merupakan awal dari kehidupan baru Ruben yang telah menerima dirinya sebagai tuna rungu. Film dibuka dengan suara bising dari penampilan band heavy-metal Ruben dan Lou, dan diakhiri dengan keheningan mutlak.
Sepanjang film yang “sunyi” ini, penonton mendambakan suara yang Ruben rindukan. Namun, pada akhirnya, suara-suara gemuruh, distorsi, dan elektrik dari implan, tidak lagi sebanding dengan keheningan.
Pradipta Aditya Putri
Editor: Arizqa Shafa Salsabila
