SPK Bukan Malaikat Mikail dan Hal-Hal Lain yang Perlu Ditanggapi
Assalamu’alaikum wr.wb.
Ekspresionline.com—Polemik tentang SPK di setiap penyelenggaraan PKKMB tidak pernah surut. Terbaru, opini berjudul “Di Kampus Pendidikan, PK Bukan Cara Mendidik” yang termuat di buletin EXPEDISI edisi II PKKMB UNY akhirnya ditanggapi dengan opini lain berjudul “Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), Masihkah Seperti Zaman Dahulu?” yang termuat di sebuah blog.
Sebelumnya, saya tak pernah menyangka akan ada balasan opini atas topik serupa. Angkat topi setinggi-tingginya untuk si pembalas! Sungguh, menjadi preseden baik dalam berpolemik jika tulisan dibalas dengan tulisan, alih-alih membalasnya lewat persekusi atau ceramah. Kendati saya bukanlah penulis opini di EXPEDISI, tetapi saya cukup tertarik untuk menanggapi balasan opini atas tulisan tersebut.
Saya tidak menemukan informasi mengenai nama penulis balasan opini tersebut, meski dia mengaku sebagai mahasiswa baru (maba). Agar memudahkan menanggapinya, kita sebut saja “Tanti Rahayu”, sesuai dengan nama akun yang tertera di blog itu.
***
Jika boleh ditarik poinnya, tulisan Tanti Rahayu sepertinya ingin memetik pelajaran tentang kedisiplinan dan ketertiban. SPK menjadi sebuah percontohan untuk menegakkan kedua hal itu di PKKMB. Di paragraf ketiga, Tanti Rahayu sudah menegaskannya, bahwa “SPK sangat penting dalam mendukung lancarnya PKKMB”.
Saya belum mempermasalahkan pelajaran apa yang diambil Tanti Rahayu dari keberadaan SPK. Di kepala saya, justru berputar sepotong pertanyaan: apakah wajah jarang senyum SPK sudah tepat disamakan dengan malaikat Mikail seperti ditulis oleh Tanti Rahayu?
Ini bukan lelucon (tapi kalau mau tertawa disilakan). Konon, di balik sikap malaikat Mikail yang tak pernah senyum, ada pesan tertentu yang ingin disampaikan. Kurang lebih begini: “Jangan habiskan hidup hanya untuk bersenang-senang. Malaikat Mikail saja tidak pernah tersenyum sejak neraka diciptakan”.
Bagaimana dengan SPK? Saya tak pernah berpikir bahwa mereka serupa dengan malaikat Mikail. Begitu pula dengan PKKMB yang bukan selalu acara untuk bersenang-senang. Pasalnya, esensi PKKMB ya untuk mengenal dan bersosialisasi dengan kehidupan kampus—demikian pemahaman saya.
Maka, ada atau tidaknya SPK, rasa-rasanya juga tak berpengaruh signifikan terhadap patokan laku hidup masing-masing maba. Mau bersenang-senang, atau bersusah-susah, keberhasilan PKKMB toh seharusnya ditentukan dari tersampaikannya informasi seputar kehidupan kampus kepada maba.
Perkara bersenang-senang dan perlunya keberadaan SPK agar serupa malaikat Mikail, tergantung konsep acara PKKMB: mau mengakomodasinya atau tidak. Kesimpulannya, SPK tidak mirip malaikat Mikail, apalagi mirip saya. Lanjut ….
Tentang Kekerasan
Jika Tanti Rahayu mengambil pelajaran tentang kedisiplinan dan ketertiban, saya justru merasa keberadaan SPK meninggalkan kesan sebagai citra kekerasan paling representatif, di mana saya tak menjumput pelajaran apa pun. Bagaimana bisa? Itu lantaran apa yang disebut kekerasan tidak sebatas kekerasan fisik belaka.
Ada empat jenis kekerasan apabila kita mengacu pada buku Teori-Teori Kekerasan susunan Thomas Santoso, yaitu: (1) kekerasan terbuka, biasanya kasatmata seperti perkelahian; (2) kekerasan tertutup, sifatnya tidak langsung seperti perilaku mengancam; (3) kekerasan agresif, dilakukan untuk memperoleh sesuatu, misalnya merampok; (4) kekerasan defensif, digunakan untuk melindungi diri, contohnya bela diri.
Sepengalaman saya mengikuti PKKMB fakultas, praktik kekerasan jenis kedua nyata ditampilkan para SPK. Tidak hanya memasang muka garang, SPK bahkan membentak mahasiswa baru hanya karena tak memenuhi penugasan. Apakah dengan demikian mereka tidak bisa disebut melakukan kekerasan? Ataukah kita terus-menerus melakukan penghalusan kata dengan menyebut tindakan ini sebagai “kekerasan nonfisik”?
Membiarkan kekerasan tetap berlangsung di PKKMB hanya akan membuat kita lebih lama berkubang pada pemahaman yang cekak perihal kekerasan. Sebab, menyitir Harvey Greisman, bahasa yang kita gunakan dalam membahas kekerasan setali dengan gagasan dasar kita soal hubungan dominasi yang legitimate dan tidak legitimate. Dengan kata lain, kita bakal cenderung mendefinisikan secara berbeda atas perilaku yang sama.
Sebagai contoh, kita tidak menganggap tindakan SPK merupakan kekerasan karena mereka legitimate, tetapi kita justru menyebutnya kekerasan ketika tindakan serupa dilakukan oleh orang lain yang tidak legitimate. Padahal, siapa pun pelakunya, kekerasan tetaplah kekerasan. Kedok apa pun tidak bisa menutup tindakan biadab yang telah melahirkan luka.
Paksaan adalah Praktik Usang
“Mereka hanya melaksanakan tugas untuk menegakkan kedisiplinan. Karena kedisiplinan harus dimulai dengan paksaan, lalu biasa dipaksa disiplin dan akhirnya terbiasa dengan kedisiplinan.”
Salah satu kalimat Tanti Rahayu di atas amatlah lucu. Kebiasaan disiplin macam apa yang diharapkan dari sebuah praktik pemaksaan? Sebelum dapat seenaknya main paksa-paksaan, evaluasi seharusnya dilakukan untuk menimbang hal yang sama diulangi: sudah tepatkah metode yang selama ini digunakan untuk menegakkan kedisiplinan dan ketertiban kepada mahasiswa baru?
Praktik paksaan untuk mendisiplinkan dan menertibkan maba dengan menggunakan SPK kerap menjadi pusat perhatian. Hal ini lantaran keberadaan SPK telah dianggap represif sepanjang penyelenggaraan PKKMB. Akibatnya, PKKMB justru amat potensial dianggap menjadi ajang paling ditakutkan dan tak substantif bagi maba.
Kedisiplinan dan ketertiban memang perlu di PKKMB, tetapi praktik ini seharusnya ditegakkan tanpa perilaku intimidatif seperti ditunjukkan SPK. Bagaimana caranya? Kita bisa membaca refleksi apik Nurfathi Robi selaku mantan SPK dalam tulisannya berjudul “Senyum SPK”. Alih-alih merawat sistem yang mencekam bagi maba, SPK seharusnya diberdayakan untuk menegakkan kedisiplinan dan ketertiban secara kultural.
Apabila telah tegak kedisiplinan dan ketertiban tanpa paksaan dan tindakan intimidatif, SPK pun tak perlu harus susah-payah berlatih menahan senyum, pura-pura menyeramkan, atau menekuni ilmu bentak-bentakan. Jadi, jangan diem-diem bae, senyum napah!
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Ahmad Yasin
Editor: Ikhsan Abdul Hakim
