/

Titik Nol: Memaknai Kehidupan Melalui Sebuah Perjalanan

Identitas Buku

Judul: Titik Nol
Penulis : Agustinus Wibowo

Jumlah halaman : 556
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013

Melalui buku Titik Nol, Agustinus Wibowo benar-benar memaknai perjalanannya. Setiap langkah dan tarikan napas tidak pernah ia sia-siakan. Demi sebuah makna kehidupan ia rela menceburkan diri ke dalam samudra dunia luas yang ombaknya selalu ganas. Ia tidak takut sakit, tidak takut kelaparan, dan ia juga tidak takut akan kematian walau bermodal biaya minim. Agustinus adalah petualang bebas, setidaknya bebas dari rasa takutnya.

Apa yang dicari oleh para petualang? Orang-orang yang menyeberang lautan, melewati senti demi senti daratan, mendaki meter demi meter pegunungan, menelan semua kesulitan dan berkawan dengan semua kesusahan itu? Sebuah pengalaman yang jadi bekal untuk diceritakan kepada kerabat, saudara, sahabat atau anak-cucu? Atau sekadar kumpulan kisah dan deretan foto yang bisa dipamerkan kepada orang lain? Semua Agustinus jawab di Titik Nol.

Agustinus mencoba memberi arti, bahwa nilai perjalanan bukan seberapa jauh kaki melangkah, bukan seberapa tinggi gunung didaki, dan bukan seberapa lama kita bisa bertahan di alam liar. Tapi sebarapa dalamnya setiap petualang bisa memahami apa yang ia lakukan. Dengan begitu setiap langkah para petualang dalam perjalanan harus memiliki makna. Karena menurut Agustinus, “Perjalanan tanpa makna bagaikan rumah tanpa roh. Hanya wujud yang tanpa jiwa.”

Titik Nol adalah sebuah kisah perjalanan yang sangat berbau filosofis tentang kehidupan sang penulis. Dalam hampir keseluruhan isi buku, Agustinus selalu merefleksikan makna perjalanannya dalam kehidupan. Setiap tempat yang ia jajaki, setiap orang yang ia temui, dan setiap peristiwa yang ia alami selalu dikaitkan dengan segala permasalahan hidupnya. Agustinus berfilosofi tentang kehidupannya melalui sebuah perjalanan akbar keliling dunia.

Di seluruh awal bab buku ini, Agustinus selalu menghadirkan analogi-analogi yang menggambarkan isi bab tersebut. Pada setiap bab, ia tidak langsung bercerita tentang pengalamannya di suatu tempat, tapi selalu ia awali dengan sebuah analogi yang sangat kreatif. Terkadang ia menganalogikan dengan film, cerita, sejarah, tetapi ia paling sering menganalogikannya dengan kehidupan pribadinya. Di situlah para pembaca dapat memahami, bagaimana Agustinus memaknai perjalannya, dengan mengetahui latar belakang kehidupannya.

Jika dibandingkan dengan buku perjalanan lainnya, ada kesamaan antara Titik Nol dengan buku Into The Wild karya John Krauker–yang difilmkan dengan judul sama. Dua buku ini sama-sama mengangkat narasi tentang seorang petualang yang mencari makna kehidupan. Tetapi Into The Wild berisi tentang kekecewaan. Christopher McCandless, si tokoh utama kecewa terhadap masyarakat dan kondisi dunia, yang ia anggap penuh dengan kepalsuan. Sedangan Titik Nol menjelaskan sebaliknya. Agustinus menjadi semakin mengagumi dunia beserta isinya. Masyarakat, suku, budaya, bahasa, dan segala keunikan manusia membuat Agustinus semakin mencintai kehidupan.

Kemudian ada buku berjudul Jelajah 3 Negara Eksotis, Nepal, Bhutan, Tibet, karya Nanny Budiman, yang memiliki latar tempat sama dengan Titik Nol. Tetapi buku tersebut hanya menampilkan keeksotisannya saja. Keindahan alam, tempat-tempat bersejarah, transportasi, dan biaya, yang menjadi narasi utama dalam buku tersebut. Tak ada makna seperti Titik Nol. Buku tersebut hanya cocok sebagai buku panduan, atau biasa disebut travel guide bagi mereka yang ingin menjelajah dunia, khususnya Asia Tengah.

Sedangkan Titik Nol adalah sebuah perjalanan yang dikisahkan dengan cukup menarik. Selain bersifat lebih sentimental karena ada riwayat pribadi, ada pula sebagian kisah perjalanan yang dikisahkan dengan nada humor.

Humor tersebut di antaranya ada dalam kisah Tibet yang telah menjadi sangat komersial seperti kota-kota Cina lainnya; Nepal yang telah menjadi daerah wisata obralan; India yang masih belum dapat menghilangkan kemiskinan, sifat curang, dan perilaku tidak sopan para prianya; dan Pakistan yang penduduknya dalam membahas masalah apa pun selalu dikaitkan dengan agama.

Berawal dari Sebuah Catatan

Dengan sebuah catatan, siapa pun bisa menjadi jurnalis perjalanan. Siapa pun bisa mencatat atau mengisahkan tentang perjalanannya ke suatu tempat. Seperti Agustinus, ia mencatat perjalanan akbar keliling Asia Tengah yang telah ia abadikan dalam ke tiga bukunya, Garis Batas, Selimut Debu, dan Titik Nol. Ya karena dia memang seorang jurnalis, tulisan-tulisannya sempat dimuat di beberapa media Indonesia dan dunia. Semua tulisan itu berasal dari catatan perjalanannya.

Berawal dari sebuah catatan, jurnalisme perjalanan sebenarnya sudah ada sejak masa para pelaut, penjelajah, petualang dan penakluk dunia ratusan tahun yang lalu. Tetapi pada waktu itu, catatan perjalanan para penjelajah hanya digunakan untuk menginformasikan kepada kerajaan atau negara mereka. Atau hanya menjadi arsip sebagai bukti sejarah, dan tidak dipublikasikan di media massa seperti saat ini.

Seperti catatan harian Francisco Pizzaro, si penakluk suku Inka di pedalaman Peru, Amerika Selatan, pada tahun 1531. Dalam buku Guns, Germs, & Steel karya Jared Diamond, dipaparkan catatan-catatan yang ditulis oleh Pizzaro, si penakluk dari kerajaan Spanyol. Dari awal penjelajahan keliling dunia, penemuannya atas Samudra Pasifik, sampai pada penaklukan Raja Inka, Atahuallpa, yang hanya dengan enam puluh prajurit Spanyol melawan 40.000 tentara musuh.

Masih banyak sebenarnya, para penjelajah besar dunia beserta catatan-catan perjalanan yang kemudian dibukukan. Marcopolo dengan il Million, Vasco da Gamma dengan Em Nome de Deus: The Journal of the First Voyage of Vasco Da Gama to India, Christopher Columbus dengan Christopher Columbus’s journal, dan sebagainya. Karya-karya besar mereka berasal dari sebuah catatan perjalanan.

Kemudian, Septiawan Santana, dalam bukunya yang berjudl Jurnalisme Kontemporer juga menjelaskan bahwa catatan perjalanan kerap dijadikan para sastrawan besar sebagai bahan pembuatan fiksinya. Ada James Cook dalam Journals of Captain Hook, Paul Theroux dalam The Happy Tales of Oceana, contohnya. Atau Mark Twain dalam Adventures of Huckleberry Finn, sebagai contoh lain.

Sementara itu, dewasa ini, jurnalisme perjalanan biasanya hanya ditulis seperti buku panduan. Hanya menulis tata cara bagaimana seseorang bisa mencapai suatu destinasi wisata, dari transport, biaya, penginapan dan sebagainya. Biasanya jurnalisme perjalanan seperti ini digunakan untuk mem-branding suatu destinasi wisata saja. Atau bisa digunakan untuk sebuah perusahaan jasa manajemen perjalanan, yang pasti agar konsumen tertarik.

Tetapi Titik Nol berbeda. Titik Nol memang jenis jurnalisme perjalanan. Agustinus seperti memberikan ruh pada Titik Nol. Memberikan makna yang bernilai terhadap setiap cerita. Tidak kering dan kosong seperti laporan-laporan perjalanan biasanya. Agustinus tidak melulu mengagung-agungkan keindahan. Sehingga para pembaca tergiur dan ingin melakukan perjalanan. Agustinus melalui Titik Nol hanya ingin memaknai perjalanannya. Titik Nol mengajak pembaca agar memaknai sebuah perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *