Toko Kelontong Namiya: Empati yang Mengubah Hidup Seseorang
Judul: Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Media Pustaka
Tahun terbit: 2018 (Terjemahan Bahasa Indonesia)
Tebal: 404 halaman
ISBN: 9786020648293
Ekspresionline.com–Pernahkan Anda memiliki masalah yang sangat besar sehingga merasa harus mencurahkan masalah Anda pada seorang teman? Apakah Anda mendapatkan solusi atau kelegaan setelahnya? Ataukah Anda justru kebingungan untuk mendapatkan teman curhat?
Jika iya, Toko Kelontong Namiya jawabannya. Toko ini menyediakan sesi konsultasi gratis. Seorang kakek bernama Yuji secara sukarela membalas surat-surat konsultasi tersebut. Namun, siapa sangka bertahun-tahun kemudian toko tersebut menjadi tempat persembunyian perampok kelas teri.
Toko Kelontong Namiya akan Anda temukan dalam buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Novel ini merupakan buku best seller internasional yang ditulis oleh Keigo Higashino yang diterbitkan tahun 2012 di Jepang dengan judul Namiya Zakkaten No Kiseki, kemudian dialihbahasakan oleh Faira Amadhea di tahun 2018 hasil terbitan Gramedia Media Pustaka.
Kisah dalam buku ini bermula ketika tiga berandal menemukan sebuah toko kosong. Mereka harus bersembunyi karena mobil curian mereka mogok. Mereka ialah Atsuya, Shota, dan Kohei yang terjebak hingga waktu pagi di toko terbengkalai itu. Siapa sangka dari kejadian tersebut, ketiganya memperoleh pembelajaran hidup yang berguna melalui kotak surat dari kotak susu.
Buku ini memiliki 5 bab cerita yang saling berhubungan, cerita pertama dimulai dengan cerita Kelinci Bulan perihal kesulitannya untuk memilih merawat pacar atau fokus pada olimpiade. Awalnya ketiga berandalan itu mengira surat itu lelucon. Kemudian, mereka berubah pikiran dan berusaha membantu memikirkan solusi masalah Kelinci Bulan.
Sayangnya, mereka menjumpai banyak keanehan dalam isi surat balasan. Dimulai dengan fakta tidak akan ada olimpiade mendatang hingga penulis surat menyebutkan lagu yang populer di empat puluh tahun sebelumnya. Akhirnya, mereka mulai menyadari adanya perbedaan waktu antara dunia mereka dengan Kelinci Bulan. Rupanya, toko kelontong itu ialah mesin waktu.
Yuji, Si pemilik toko kelontong adalah kakek yang terkenal hangat. Ia selalu menerima surat-surat berisi curhatan atau pertanyaan dari orang-orang di sekitar. Pada mulanya isi dari surat tersebut hanyalah candaan atau pertanyaan iseng dari anak-anak dan orang sekitar. Yuji selalu memajangnya di halaman depannya sebagai humor. Lama-kelamaan muncul surat-surat yang membicarakan masalah serius hingga Yuji harus memisahkan dua kotak surat yang berisi permasalahan serius atau candaan.
Upaya Yuji dalam membalas surat-surat itu mengantarkannya untuk dikenal sebagai orang yang memiliki empati tinggi. Empati sendiri merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami dan merasakan keadaan emosional orang lain (Mahdi, 2023). Ia selalu menjawab dengan hati-hati dan berusaha memahami perasaan pengirim pada setiap pesan konsultasi yang ditujukan untuknya. Sekalipun isi pertanyaannya main-main, Yuji juga memikirkan jawaban yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi pengirim surat.
Beberapa tahun berlalu, empati yang diterapkan pertama kali oleh Yuji dalam membalas surat menular ke hati orang lain. Dari ketiga berandalan yang tak berempati hingga mereka berniat mendengarkan konsultasi yang mengubah kehidupan orang lain. Mereka secara tak terduga mampu mengatasi masalah Kelinci Bulan dengan jawaban yang tajam, juga mampu mengatasi masalah Si Musisi Ikan tentang karir bermusiknya atau melanjutkan usaha toko ikan keluarganya.
Zaman sekarang empati menjadi salah satu hal penting yang dimiliki manusia (Fitriani et al, 2022). Kemudahan akses informasi di era digital menjadikan manusia dapat menanggapi segala hal dengan mudah. Seyogyanya, manusia memikirkan dampak tulisannya ketika menuliskan komentar atau mengomentari kehidupan orang lain. Novel ini membuktikan bahwa perkataan orang lain mampu mengubah persepsi atau pandangan yang dimiliki orang lain.
Hal ini yang dirasakan Harumi Takei ketika berumur 20 tahun. Ia merasa kelelahan bekerja dan diremehkan oleh orang lain sebagai seorang perempuan. Harumi bekerja sambilan menjadi hostes club malam demi membalas budi keluarga angkatnya, ia mulai merasa kelelahan akan jadwal kerjanya yang padat. Suatu ketika, ia ingin membangun bar sendiri dengan upah hasil kerja sampingannya dan berhenti bekerja, tetapi ia memiliki kebimbangan di hati. Ia menuliskan kebimbangan itu dalam surat yang ia kirim ke Toko Namiya, hasil dari saling balas-membalas tersebut membawa jalan hidup Harumi lebih baik.
Ada pula kisah Paul Lennon, anak yang menanyakan, “Bagaimana cara mendapatkan nilai 100 dalam ujian tanpa perlu belajar atau menyontek?”. Jawaban kakek Yuji, yaitu menyarankan gurunya untuk memberikan soal tentang diri mereka sendiri. Hal ini memberikan dampak pada Paul Lennon untuk belajar setiap ujian, sehingga ia bisa mempercayai dirinya sendiri dalam menjawab soal ujian.
Keigo menceritakan kisah mereka dengan begitu menakjubkan. Serangkaian tokoh dapat ia sambung menjadi satu kisah yang berkesinambungan. Pada setiap ending bab, Keigo dapat menghadirkan akhir cerita yang terduga atau mengejutkan pembaca. Hal ini ditunjukkan dengan terhubungnya setiap tokoh dengan panti asuhan Marumitsuen. Mulai dari ketiga berandalan yang berasal dari panti asuhan, Harumi Takei yang tinggal di sana sebelum diasuh, Si Musisi Ikan yang menyelamatkan anak panti asuhan, hingga Paul Lennon berganti identitas dan tinggal di tempat tersebut.
Meskipun terdapat banyak tokoh di dalam cerita ini, Keigo tetap berhasil membuat ceritanya mudah dipahami pembaca. Kejutan-kejutan kecil yang disisipkan Keigo di setiap cerita kadang kala membuat pembaca terharu, menangis, atau terhenyak sejenak dalam memahami kehidupan.
Adapun kekurangannya, novel ini menghadirkan banyak tokoh dengan nama Jepang, pembaca Indonesia atau negara lain akan mengalami kesulitan dalam mengingat nama dan tokoh dalam cerita. Karena Keigo sendiri tidak menggambarkan tokoh secara rinci atau memberikan ciri khas yang setidaknya mampu pembaca ingat. Tidak diperinci secara jelas bagaimana perbedaan Atsuya, Shota, dan Kohei yang sering terlibat adegan bersama, sehingga pembaca bingung membedakan ketiga tokoh tersebut.
Selain itu, novel ini seperti sengaja memberikan akhir cerita yang terbuka, sehingga menimbulkan rasa tidak puas pada pembaca karena cerita ini berakhir tanpa penyelesaian yang jelas. Tidak ada kejelasan tentang penggusuran yang terjadi di panti asuhan.
Di balik kekurangannya, novel ini mengajarkan pembacanya akan kekuatan empati bagi kehidupan orang lain. Dibaliknya masalah yang bercabang dalam pikiran, ternyata dibutuhkan telinga yang mampu mendengarkan keluh kesah tanpa mengharap imbalan.
Aprilia
Editor: Okta Ardia
