Wesel Pos Pengantar Riuh Ibukota
Judul: Wesel Pos
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Juni 2018
Tebal: vii + 100 halaman
ISBN: 978-602-03-8711-6
Ibukota bagi sebagian orang adalah kota yang riuh. Bahkan ada orang yang menganggapnya lebih berengsek lagi. Orang-orang Ibukota seperti hidup dalam kejaran waktu, selalu mengikuti waktu, hingga pada akhirnya hanya mematuhi waktu. Kota itu tidak pernah kenal lelah, selalu ramai, dan membuatmu menjadi orang yang tidak peduli. Gempita ibukota dengan segala modernisasi membuat urbanisasi semakin masif.
Modernisasi menjadi alasan banyak orang untuk mengadu nasib, karena modernisasi berarti kemajuan. Kemajuan berarti mendekati kesuksesan. Kesuksesan berarti sedikit lebih dekat untuk hidup yang penuh ketenangan. Penuh ketenangan. Meski tak banyak yang memikirkan bahwa itu adalah ilusi. Yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia, kosong di depan mata–jika mengutip salah satu baris lirik lagu Efek Rumah Kaca.
Dampak urbanisasi, barangkali sudah dirasakan oleh penduduk lama Ibukota. Penduduk lama Ibukota yang masih memegang nilai dan norma tersingkir. Beradaptasi dengan keadaan urban, dan kehilangan nilai bermasyarakat. Tak acuh kepada satu sama lain. Menjadi orang kota. Bayangan tentang nilai dan norma pada penduduk lama terekam secara apik di Si Doel dalam berbagai versi.
Bagaimana dengan orang yang baru pertama kali merasakan hidup di Ibukota dengan segala keruwetan tersebut? Novelet ini dibuka dengan Elisa, seorang gadis desa yang akhirnya menginjakkan kakinya di Ibukota, Jakarta. Tujuan Elisa ke Jakarta adalah mencari kakaknya yang belum pulang selama lebih dari dua tahun untuk memberitahu bahwa Ibu mereka telah meninggal dunia.
Ia berbekal alamat yang tercantum dalam wesel pos kiriman rutin kakaknya. Wesel pos yang menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya di desa. Wesel pos yang memulai segala kisah.
Elisa turun di sebuah terminal dan langsung dibuat bingung oleh keriuhan sekitar. Tidak seperti keriuhan di terminal kota lain. Orang yang pertama kali dia temui di Jakarta adalah porter, tukang ojek dan supir taksi yang berbuat agresif menawarkan jasa. Uang saku yang sedikit–kiriman terakhir dari kakaknya, dipotong biaya penguburan ibunya–membuatnya untuk memilih tidak naik taksi. Jalur angkutan umum juga Elisa belum paham. Elisa memutuskan untuk duduk, memesan kopi kepada seorang ibu-ibu. Ibu yang ramah, pikirnya. Mengingatkan Elisa akan mendiang Ibunya.
Keramahannya membuat Elisa menjadikan Ibu itu sebagai orang yang dia percayai pertama kali di Ibukota. Saat Elisa menitipkan tasnya dan kembali setelah buang air kecil, tas yang ia titipkan lenyap bersama Ibu penjual. Hari pertama Elisa di Jakarta, dia dirampok.
Akhirnya dia ke kantor polisi, melaporkan perampokan yang menimpanya. Elisa akhirnya mengerti, tidak semua penjahat langsung bisa ditangkap. Yang Elisa dapatkan hanyalah selembar kertas laporan, dan membuatnya semakin bingung. Barang hilang, kehabisan akal, membuat Elisa menangis, menyerah di kantor polisi. Polisi yang memeriksa Elisa merasa iba dan memutuskan akan mengantar Elisa menuju tempat kakaknya, Ikbal Hanafi. Harapan seketika muncul di benak Elisa.
Setelah menunggu polisi selama dua jam, Elisa berangkat dengan dibonceng. Ternyata, figur polisi tidak seperti yang ada di benak Elisa selama ini–abdi negara penegak peraturan. Padatnya lalu lintas Jakarta membuat polisi tadi kerap melanggar lalu lintas. Elisa membayangkan kakaknya, setiap hari hidup di kota yang begini padat. Alamat di wesel pos tertuju pada sebuah gedung. Gedung tempat Ikbal Hanafi bekerja.
Di gedung itu, Elisa mengetahui bahwa Ikbal Hanafi sudah tidak lagi bekerja di sana. Tapi, seorang satpam memberitahu, jika ia bisa bertemu Ikbal Hanafi ketika bertemu Fahri. Fahri adalah seorang supir salah satu direksi di perusahaan tersebut dan cukup mengenal berbagai orang. Elisa lantas menemui Fahri, mengatakan maksudnya. Mengeluarkan wesel posnya sebagai bukti bahwa dia benar-benar mencari Ikbal Hanafi. Fahri lantas menemani Elisa, mencari Ikbal Hanafi, mengahadapi Ibukota. Semua dimulai dari wesel pos, pengirim uang, juga pengantar petualang.
Hal-hal baru bagi gadis desa seperti Elisa dengan keluguannya dan sikapnya terhadap kota mengisi narasi dalam sebelas bab novelet ini. Dari tiap babnya, Elisa terus berkembang memahami peliknya kehidupan Ibukota. Dengan jumlah halaman per bab yang pendek, membuat novelet ini bisa diselesaikan hanya dengan sekali duduk saja. Penuturan oleh Ratih Kumala yang cukup lancar, membuat pembaca mudah memahami novelet ini. Meski demikian, konklusi yang cepat membuat jalan cerita novelet ini langsung tertebak.
Masalah urban terlingkup di dalam novelet ini. Kerasnya kehidupan di Jakarta selalu muncul dalam penceritaan. Mengutip halaman pembuka di novelet ini: “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.”
Danang Suryo
Editor: Ikhsan Abdul Hakim
