Bayang-bayang Kematian dalam Pikiran Jurnalis Foto
Penulis: Steven Silver, Greg Marinovich
Produksi: El Entertainment dan Instinctive Film
Sutradara: Steven Silver
Tanggal Rilis: 22 April 2011
“Kamu pergi melihat hal buruk, hal jahat, dan kamu ingin melakukan sesuatu. Lalu, apa maumu? Kamu mengambil foto yang memperlihatkan (insiden) itu, tetapi tidak semua (orang) akan menyukainya. Kamu harus mengerti kalau mereka mungkin melukai si pembawa pesan.”
Kevin Carter, 18 April 1994, seminggu setelah memenangkan Pulitzer Prize.
Ekspresionline.com–Apakah Anda mengetahui foto The Vulture and The Little Girl (1993) atau yang lebih dikenal dengan The Strugging Girl? Foto tersebut diabadikan oleh Kevin Carter, seorang jurnalis foto The Rising Star di Anyon, sebuah kota gurun di bagian selatan Sudan.
Foto tersebut menggambarkan seorang anak perempuan yang merintih kelaparan di tengah gurun pasir. Malang, di belakangnya, seekor burung nazar tengah menunggu kematiannya dengan tatapan tajam seakan siap menerkam. Foto tersebut sangat mewakili konflik kekeringan dan kelaparan yang melanda Sudan kala itu.
The Vulture and The Little Girl berhasil memenangkan Pulitzer Prize, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam karya jurnalistik. Namun, bukan karena foto ini terkesan sangat menakjubkan dan penuh makna di dalamnya. Lebih dari itu, cerita di balik pengambilan foto ini berawal dari perjalanan keempat fotografer yang dikemas dalam film The Bang Bang Club.
The Bang Bang Club adalah film yang mengisahkan perjalanan empat fotografer, yakni Greg Marinovich (Ryan Phillipe), Joao Silva (Neels VanJaarsveld), Kevin Carter (Taylor Kitsch), dan Ken Oesterbroek (Frank Rautenbach).
Film ini berlatar belakang insiden di Afrika Selatan pada rentang 1990 hingga 1994. Kala itu, pasca pembebasan Nelson Mandela dari penjara, orang kulit hitam telah berkuasa di negara mereka sendiri, Afrika Selatan. Mereka berhasil menang dari penjajahan dan diskriminasi rasial oleh orang kulit putih. Peristiwa tersebut dikenal sebagai politik apartheid.
Seusai konflik apartheid mereda, justru konflik kesukuan mulai marak terjadi. Faktor utamanya adalah perbedaan pandangan adat kesukuan yang masih kental. Bahkan, berbagai konflik disebabkan hanya karena dendam turunan dan bukan dari pertikaian.
Kala itu, partai terbesar di Afrika Selatan adalah African National Congress (ANC) yang menjadi penguasa kuat di sana. Awalnya, partai tersebut bertujuan untuk mengadakan pemilihan umum (pemilu) pertama di Afrika Selatan usai pecahnya konflik apartheid. Namun, semenjak didirikan pada 1912, pemilu pertama baru berhasil diselesaikan pada 1994.
Salah satu hal yang menghambat proses pemilu di antaranya adalah diskriminasi ras dan konflik antarsuku.
Adapun suku yang menentang ANC adalah Inkatha Zulu. Mereka merupakan suku yang merasa tertindas oleh keberadaan ANC. Karena ANC, mereka jadi sulit mendapat pekerjaan. Warga mereka pun dibunuh hanya karena mereka berasal dari Inkatha.
Di bagian awal film, kita diperlihatkan pertikaian antara Inkatha dengan penduduk kota Soweto yang memihak ANC. Akibatnya, seorang dari Soweto terbunuh karena serangan dari Inkatha.
Melihat hal demikian, Greg, yang saat itu belum tergabung The Bang Bang Club, tertarik untuk menangkap momen itu dengan kameranya. Tak hanya Greg, tiga fotografer The Rising Star, Joao, Kevin, dan Ken juga tak kelupaan ikut memotret insiden tersebut ke dalam bingkai kamera mereka.
Di situlah awal pertemuan mereka berempat sebelum menjadi fotografer resmi dari The Rising Star.
Greg berhasil mendapat kepercayaan The Rising Star setelah ia mengirim hasil foto dari dalam asrama Inkatha. Ia menggambarkan konflik pertikaian antarsuku kepada media itu. Fotonya berhasil dimuat pada halaman pertama surat kabar The Rising Star, meskipun pada saat itu ia masih menjadi fotografer lepas. Editor Foto The Rising Star Robin Comly menaruh simpati kepadanya dengan menghargai karya Greg.
Melalui hal itu, secara resmi, ia tergabung dalam jajaran jurnalis foto The Rising Star, bersama ketiga anggota yang lain.
Pekerjaan mereka berempat ialah memotret seputar konflik perang suku yang terjadi di Afrika Selatan.
Di antara konflik yang paling sering mereka potret adalah antara Inkatha melawan ANC. Inkatha yang merasa tertindas terus melakukan perlawanan.
Steven Silver menggambarkan konflik ini nyaris mendekati aslinya. Pertumpahan darah, penembakan, penunjaman, dan berbagai peristiwa brutal ditampilkan dengan kesan yang natural. Tidak ada sama sekali efek dramatis seperti film aksi bergenre science-fiction.

Saksi Konflik Afrika Selatan
Greg, Joao, Kevin, dan Ken adalah saksi nyata dari konflik selama empat tahun di Afrika Selatan.
Mereka mengabadikan momen-momen epik selama konflik berlangsung. Mulai dari mayat-mayat tergeletak di tengah jalan, jeritan perempuan yang menangis melihat suaminya bersimbah darah, kebakaran di mana-mana, dan lain sebagainya.
Dari situlah masyarakat menyebut keempat fotografer itu sebagai The Bang Bang Club. Istilah “Bang Bang” merujuk pada ketakutan dan pertikaian yang menyelimuti pekerjaan mereka.
Sehari-harinya, mereka bergumul dengan perang, senjata, korban, dan foto. Saya sendiri menjuluki mereka berempat sebagai “orang gila” yang mau menjadi “budak jurnalistik” dengan mengabadikan foto-foto konflik.
Risiko Pekerjaan
Sudah selayaknya segala jenis pekerjaan selalu mengandung risiko, tak terkecuali fotografer. Apalagi, The Bang Bang Club adalah para fotografer yang tiap harinya berkecimpung dengan konflik. Karena tuntutan, mau tak mau mereka tetap memotret konflik yang terjadi, sekalipun membahayakan nyawa.
Di antara keempatnya, Greg termasuk yang paling nekat. Ia bahkan sering langsung menjatuhkan dirinya ke medan perang. Lebih dekat dari yang lain, Greg hampir selalu memotret dari jarak beberapa meter saja.
Salah satu karya Greg yang paling fenomenal adalah Zulu Spy (1991). Karya tersebut ia peroleh dari jarak yang sangat dekat dengan insiden.
Zulu Spy menampakkan pembacokan brutal warga Inkatha Zulu oleh ANC. Tak hanya dibacok, ia juga dibakar hidup-hidup. Hebatnya, karya yang mengandung unsur kekerasan tersebut terpilih menjadi pemenang Pulitzer Prize pada 1991.

Namun, penghargaan mungkin hanyalah sebuah bonus. Gara-gara foto itu, Greg dituduh ANC sebagai mata-mata negara. Fotonya terkesan memihak karena menampakkan kebrutalan dari satu sisi. Seorang dari ANC yang bernama Sonny selalu mengecam tindakannya. Ia mengatakan bahwa fotografer kulit putih hanya memanfaatkan pertumpahan darah orang Afrika untuk menghasilkan uang.
Greg telah menyesali apa yang ia perbuat. Ia dibuat tidak berdaya melihat kebrutalan dari mata kepalanya. Dalam bayangan Greg, insiden tersebut nyaris tak pernah hilang.
Hal serupa juga terjadi dalam film American Sniper (2014). Chris Kyle, elit militer terbaik Amerika yang tergabung dalam Navy SEAL telah membunuh lebih dari 160 orang dalam tugasnya selama lebih dari 1.000 hari.
Namun, yang terbayang di otaknya bukan orang yang ia bunuh, tetapi teman-temannya yang tidak dapat ia selamatkan. Bayang-bayang tersebut memengaruhi psikisnya dan membuat ia menjadi sangat ketakutan.
Bukannya Greg, Melainkan Kevin.
Kevin, seusai dipecat dari The Rising Star memilih berkelana ke Sudan. Ia memotret berbagai fenomena kelaparan yang terjadi di sana. Bersama Joao, ia terbang dan menetap selama beberapa waktu. Dari sanalah karya The Vulture and The Little Girl lahir. Karya tersebut dianugerahi Pulitzer Prize tiga tahun setelah Zulu Spy.
Naas, justru karena penghargaan sebesar Pulitzer Prize, semangat hidupnya hancur. Hal tersebut terjadi karena tekanan wartawan dan bayang-bayang kematian.
Ketika sesi wawancara selepas ia menerima penghargaan, para wartawan mendesak Kevin untuk menceritakan nasib anak perempuan dalam fotonya. Kevin benar-benar tidak dapat menjawab desakan itu.
Ia yang tak dapat menolong dan malah membiarkan anak tersebut tewas, merasa bersalah atas hasil fotonya sendiri.
Tidak hanya tentang foto dan karya pribadinya, problem hidup seperti hutang, pasangan, juga ingatan tentang pembunuhan dan mayat kerap menghantuinya.
Juga Ken, yang mati tertembak ketika turut meliput konflik menjadi alasan utama mengapa Kevin memilih bunuh diri. Sebelum bunuh diri, ia meninggalkan secarik surat yang berisi keluh kesah hidupnya.
The Bang Bang Club memberi makna bahwa sekuat-kuatnya pribadi pasti akan mengalami masa puncak yang diiringi tekanan bertubi-tubi.
Sebagai jurnalis, mereka harus netral terhadap segala hal yang meliputi konflik antar dua belah pihak. Namun, sering kali sisi kemanusiaan justru muncul sembari mereka berusaha tetap netral. Bagaimanapun juga, melihat seseorang dibunuh di depan mata kepala sangatlah berat.
Salah satu hal yang menjadikan film ini sungguh menarik adalah penggambaran cara pandang jurnalis, khususnya fotografer dalam aksi mereka di lapangan. Tak heran, film ini mendapat penghargaan Canadian Screen Awards untuk Skenario Film Terbaik pada 2012.
Abi Mu’ammar Dzikri
Editor: Galih Gesang Sejati
