Arah Langkah, Cara Berkelana Lewat Kata
Identitas Buku
Judul: Arah Langkah
Penulis: Fiersa Besari
Jumlah Halaman: 304 Halaman
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Mediakita
ISBN: 978-979-794-561-9
Seperti bagian kecil dari surga, tidak diragukan lagi keindahan alam dan elok parasnya Indonesia. Terhitung 103 gunung tersebar dan lebih dari 17.000 pulau menjadikan Indonesia negara dengan garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. Siapa pun ingin menginjakkan kaki di setiap inci dari khatulistiwa ini. Menyelam ke titik terdalam hingga memanjat menuju titik tertinggi. Berkeliling dari Pulau Sumatera di ujung barat hingga ke Pulau Papua di ujung timur.
Ketika Fiersa menggambarkan keindahan tersebut lewat buku ini, ia menceritakan dirinya sendiri, kisahnya sendiri. Bukan Juang dan Ana, bukan tokoh aku dan kamu, atau Kasuarina dan Dude Ginting. Bagaimana sebuah “patah hati” bisa membuat seorang berkelana ke penjuru Indonesia. Pelampiasan menarik! Saya rasa ia harus berterima kasih kepada sang pembuat patah hati.
“Yang paling aku senangi dari petualangan adalah: sejauh apapun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.”
Bulan April tahun 2013, berawal dengan niat dan tujuan yang berbeda karena hati yang saling terluka, tiga pengelana memulai sebuah perjalanan menyusuri daerah-daerah di Indonesia. Lewat cara yang seru tapi menantang, mereka tidak hanya menyaksikan langsung keindahan negeri ini, namun mereka juga harus menghadapi pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa masing-masing.
Buku ini bercerita untuk dua kejadian, saat ini dan masa yang sudah terjadi. Menceritakan pengalaman buruk bahkan menyenangkan, lalu kembali ke arena berkelana. Layaknya sebuah jurnal, “Arah Langkah” bercerita mengenai perjalanan Bung berkeliling Indonesia yang ia mulai dari pulau paling barat Indonesia, Sumatera. Sebelumnya ia telah memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran yang membosankan, mengejar passion di bidang musik, jatuh hati pada seseorang bernama Mia, mengumpulkan rupiah demi menikahi sang pujaan hati, kemudian harus rela dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
“Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia untuk menjadikannya mengeja.”
Pertemuannya dengan Prem, seorang gadis tomboy dan menggemari petualangan yang memiliki keinginan sama untuk berkeliling Indonesia, membawa mereka pada petualangan yang banyak mengubah hidup, bersama sosok laki-laki yang bernama Baduy. Selama berkelana mereka sangat terbantu dengan teknologi yang tergambar di buku ini. Twitter membantu Bung untuk bertemu kawan-kawan baru, pengalaman baru, dan tentunya tempat-tempat baru.
Siapa pun akan merasakan berkeliling dari pulau ke pulau serta merasakan apa yang Bung, Prem, dan Baduy alami. Membaca obrolan-obrolan ketiganya dengan masyarakat setempat, berbahasa tradisional, bernyanyi dengan ukulele di tepian pantai seraya bersenda gurau dengan anak-anak, lalu bertemu dengan kawan-kawan lama di dunia maya namun baru di dunia nyata, atau monolog dari Bung yang masih berkutat dengan rasa sakit dulu.
“Kita gila, ya. Bisa berkelana sejauh ini.”
Prem terkekeh. “Berkelana itu enggak gila. Yang gila itu kalau kamu di rumah padahal hati
memanggil kita untuk berkelana.”
Dari Arah Langkah kita belajar bahwa langkah pertama menentukan langkah kita berikutnya. Dan jika langkah itu ingin dimudahkan, gunakanlah cara berkomunikasi yang baik dengan setiap orang yang kamu temui bahkan yang tidak kamu temui dalam konteks nyata. Karena satu pertemuan akan menyebabkan pertemuan yang lain yang akan memberimu pengalaman dan kisah yang lain.
Buku Arah Langkah akan menjadi pengantar yang cocok. Hanya dengan kata, gambaran akan berkelana serta seluk beluk keindahan, dukacita, dan kebudayaan dapat terlukis dengan sempurna. Membangkitkan keinginan yang kadang ingin diwujudkan, tapi dikubur dalam-dalam karena terlalu tinggi.
Buku setebal 304 halaman dengan jumlah bab kurang dari sepuluh ini diakhiri dengan potret-potret petualangan asli dari Bung selama berkelana. Judul dari setiap bab hanya terdiri dari satu kata, kemudian ditulis dalam format seperti kamus, seperti:
KAUSA
(n) sebab yang menimbulkan suatu kejadian
SWABAKAR
(n) kemampuan untuk mengeluarkan api sendiri
Menarik! Selain itu, cerita-ceritanya pun ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baku. Banyak padanan kata dalam bahasa Indonesia yang muncul di buku ini. Istilah-istilah yang digunakan pun memiliki catatan kaki agar kita dengan mudah memahaminya. Namun, sayang sekali alur yang dibuat pada akhir cerita tidak melanjutkan hubungan Bung dengan Prem, selesai dengan perpisahan setelah berkelana dengan singkat.
Ayun Laily Kusumasari
Editor: Agnes Ikandani
