/

Contagion: Sebuah Peringatan Pandemi di Masa Depan

Salah satu adegan diperankan oleh Jennifer Ehle (Dr. Ally Hextall) dalam Contagion (2011)/Foto via IMDB
Judul Film: Contagion
Sutradara
: Steven Soderbergh
Produser: Michael Shamberg, Stacey Sher, dan Gregory Jacobs
Penulis: Scott Z. Burns
Tanggal Rilis: 3 September 2011 (Festival Film Venesia)
Durasi: 106 menit

“Virusnya lebih memahami kita ketimbang kita memahaminya”

Ekspresionline.com–Kalimat Ally Haxtall (Jennifer Ehle) memberi penjelasan tersirat tentang masalah baru yang mungkin akan butuh proses lama untuk ditangani.

Film garapan Steven Soderbergh, pemenang Oscar melalui film Traffic, kembali hangat ditonton karena dinilai mirip dengan pandemi COVID-19 saat ini. Berdasarkan tren pencarian Google, kata kunci Contagion (film) sempat menjulang tinggi pada 15-21 Maret lalu.

Film ini mengisahkan pandemi virus baru yang berasal dari kombinasi kelelawar dan babi. Menggunakan plot cerita hitungan hari dalam skena film, Steven memberikan gambaran yang cukup jelas tentang cepatnya penyebaran virus ini. Dari satu orang terjangkit, lalu menular ke dua hingga tiga lainnya dan berlanjut hingga berjuta orang di seluruh dunia terpapar virus ini dalam hitungan hari.

Tidak hanya perihal penyebaran, penularan virus juga diceritakan lengkap dalam film ini. Melalui percikan liur (droplet), sentuhan benda dan kontak dengan orang yang terjangkit. Tidak heran, jika film ini bisa dimiripkan dengan pandemi saat ini.

Berawal dari Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) yang baru melakukan kunjungan ke Hongkong dan tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan flu. Ia jatuh tidak sadarkan diri dan kejang-kejang di rumahnya, Minnesota, Amerika Serikat (AS).

Setelah dilarikan ke rumah sakit, ia tidak berhasil selamat karena radang otak. Hal itu ditindaklanjuti dengan autopsi oleh pihak rumah sakit, ini menjadi awal terdeteksinya virus baru dalam film ini.

Pentingnya Informasi dan Penanganan yang Tepat

Gambaran alur cerita film ini memberikan kesan realistis dalam logika penanganan yang dilakukan pemerintah AS. Ketakutan dan kepanikan yang terjadi akibat virus baru mengharuskan pemerintah AS memberi respons cepat serta hati-hati.

Mereka segera melakukan penyelidikan sigap dengan meredam publisitas untuk menjaga kestabilan negara.

Secara tersirat, Steven memberikan gambaran bahwa kebijakan yang dipikir tepat bagi pemerintah belum tentu tepat untuk masyarakat. Dengan pemusatan penyelidikan virus dan minimalisir publisitas, hal ini justru membuat situasi semakin buruk.

Arus informasi untuk kepentingan umum yang tidak dipublikasikan secara luas menyebabkan rentan terjadinya kesalahan komunikasi.

Keputusan ini menjadi bumerang bagi pemerintah AS. Tidak adanya informasi yang pasti dari pemerintah menjadikan masyarakat tidak mempercayai pemerintah lagi.

Pengaruh Jurnalistik Serampangan yang Konspiratif

Minimnya informasi dari pemerintah memberi celah jurnalis lepas macam Alan Krumwiede (Jude Law) untuk mencari keuntungan. Ia memanfaatkannya untuk menghasilkan uang dengan membuat pemberitaan di blog pribadinya.

Kematian secara tiba-tiba yang tersebar melalui video di YouTube dijadikan awal penyelidikan mencari kebenaran versinya. Mengikuti setiap pembaruan informasi di internet, lalu membuat asumsi konspiratif yang menuduh pandemi merupakan agenda bisnis farmasi besar.

Pemberitaan yang dipublikasikan di blognya membuat kestabilan di masyarakat hilang. Seperti hujan yang tiba-tiba turun ketika cuaca cerah, menghilangkan kehangatan. Puncaknya, keadaan semakin parah ketika dia menjadi narasumber debat dengan perwakilan pemerintah di televisi.

Hal ini memberikan gambaran cukup jelas tentang pengaruh berita. Steven mengembangkan konflik dalam film dengan apik melalui cerita ini.

Ia menjelaskan tentang pengendalian sosial yang carut marut akibat tidak ada transparansi informasi dan kebijakan yang tepat dari pemerintah. Lalu memberi bumbu dengan berita serampangan yang dibuat Alan dalam ceritanya.

Individualisme dalam Pandemi

Pada keadaan yang kritis, Steven menceritakan banyaknya perilaku manusia yang egois. Tanpa mempedulikan tanggung jawab, orang-orang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya, lalu acuh dengan hukum yang ada.

Steven mencoba memberi gambaran sifat asli manusia sebagai makhluk individual. Dengan kondisi terburuk yang dapat terjadi di kemudian hari, kepanikan masyarakat benar-benar nampak. Mementingkan kebutuhan pribadi dengan menjarah, merampok dan merampas milik orang lain.

Tidak terkecuali Dr. Cheever (Laurence Fishburne), pejabat keamanan Amerika yang mementingkan istrinya dengan memberi kabar rahasia kebijakan karantina dan menyuruhnya pergi dari Chicago, tepat satu jam sebelum kota itu dikarantina. Lalu, ia juga mementingkan rekannya, Dr. Mears (Kate Winslet), untuk dipulangkan karena terjangkit virus saat melakukan penyelidikan. Bahkan Cheever sampai meminta pesawat hanya untuk menjemput Mears seorang.

Penjarahan dan Keputusasaan

Saat pemberitaan Alan meluas melalui blog dengan jumlah pembaca mencapai 12 juta orang, keadaan semakin memburuk. Penjarahan di toko bahan pangan dan rumah-rumah terjadi. Selebaran poster kekecewaan pada pemerintah banyak disebarkan. Kota seolah menjadi medan perang.

Semua gambaran mengerikan dari pandemi diceritakan melalui penjarahan dan keputusasaan. Film ini memberi kesan konflik yang realistis terjadi di dunia nyata jika menghadapi krisis semacam ini.

Keputusasaan juga diceritakan dengan sentuhan detail yang unik dalam film. Penggambaran demonstrasi oleh penduduk saat mobil Cheever melalui jalanan, contohnya. Seolah masyarakat, dalam situasi semacam itu, benar-benar putus asa karena langkah keliru yang diambil pemerintah.

Penyelesaian Panjang

Film ini menggambarkan bahwa perlu waktu lama untuk menyudahi pandemi. Mulai dari menganalisis asal penyakit hingga membuat vaksin.

Melalui cerita penyebaran yang cepat dan angka kematian mencapai jutaan di seluruh dunia dalam hitungan hari, film ini memberi kesan masa kesulitan panjang yang benar-benar melelahkan.

Tanpa menggunakan “cocokologi”, mungkin kita bisa asumsikan film ini memang mirip dengan pandemi COVID-19. Namun, perlu diingat pula bahwa film ini bukan prediksi keadaan saat ini ataupun yang akan datang.

Akan tetapi, kita dapat memilih untuk sekadar menerimanya sebagai peringatan. Dengan penggambaran cerita yang realistis dari kebijakan pemerintah, sikap masyarakat dalam lingkup sosial dan cara menanggapi informasi, penjarahan, keputusasaan, hingga lamanya keadaan buruk ini berlangsung, semuanya dapat dijadikan sebuah peringatan.

Peringatan bahwa perkara pandemi dapat membuat keadaan dunia kacau balau.

Contagion dapat dijadikan refensi film yang baik untuk pengetahuan dan relateability (keterkaitan) dengan pandemi saat ini. Setidaknya dapat dijadikan peringatan untuk mempertimbangkan kondisi yang akan datang.

Fajar Yudha Susilo

Editor: Galih Gesang Sejati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *