Mitos Manusia Pertama
Ekspresionline.com—Seekor anak ayam lahir dari telur yang dihasilkan oleh induk ayam. Mana yang lebih dahulu ada, telur atau ayam? Ada banyak versi cerita yang beredar di masyarakat, tetapi kisah debat Abu Nawas dengan Baginda Raja Harun Al-Rasyid adalah salah satu yang paling terkenal.
Ceritanya begini. Suatu hari, Baginda Raja tampak girang bukan kepalang menyaksikan ayamnya bertelur. Ia memerintahkan abdi istana untuk mengumumkan sayembara. Aturannya sederhana. Pertama, peserta sayembara harus bisa menjawab pertanyaan ini dengan logis: Manakah yang terlebih dahulu ada, ayam atau telur? Kedua, peserta harus bisa menjawab sanggahan dari Baginda Raja.
Bagi yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, ia akan dihadiahi pundi-pundi emas. Namun jika gagal, ia harus dijebloskan ke penjara. Kaum kere mulanya begitu antusias untuk mengikuti sayembara itu, tetapi mendengar hukumannya jika gagal, mereka cuma bisa gigit jari. Akhirnya, hanya empat orang yang berani mendaftar, termasuk Abu Nawas.
Hari yang dinantikan tiba. Rakyat berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan sayembara. Raut wajah para peserta terlihat begitu cerah, secerah langit siang itu.
Peserta pertama maju.
“Mana yang lebih dahulu ada, ayam atau telur?” tanya Baginda.
“Lebih dulu telur, Baginda,” tutur peserta pertama dengan mantap.
“Kok bisa? Coba dijelaskan.”
“Nggak mungkin kalau ayam dulu, kan ayam berasal dari telur.”
“Lah, terus siapa yang mengerami telurnya, Bos?” sanggah Baginda.
Wajahnya yang cerah tiba-tiba jadi kelabu bak disambar petir. Ia tak bisa menjawab dan langsung dijebloskan ke penjara. Rakyat miskin geleng-geleng.
Peserta kedua maju.
“Duluan ayam apa telur?” tanya Baginda.
“Sebenarnya mereka diciptakan bersamaan, wahai Baginda.”
“Kok bisa?”
“Kalau telur dulu nggak mungkin, soalnya siapa yang bakal mengerami telur? Kalau ayam dulu juga nggak mungkin, soalnya ayam asalnya dari telur,” katanya mantap.
“Lah, kan ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda.
Wajah peserta kedua juga gagal pongah, ia bingung mau menjawab apa. Akhirnya, ia menyusul peserta pertama ke penjara. Rakyat miskin geleng-geleng lagi.
Peserta ketiga maju.
“Duluan mana menurutmu, telur atau ayam?” tanya Baginda.
“Wahai Yang Terhormat, sebenarnya ayam dulu yang tercipta,” katanya.
“Coba dijelaskan sejelas-jelasnya,” pinta Baginda.
“Sebenarnya, ayam betina yang ada terlebih dahulu. Ia bisa bertelur tanpa pejantan dan mengeraminya sendiri,” katanya dengan yakin.
Ia melanjutkan, “Ayam betina mengerami telur dan lahirlah ayam jantan, lalu ayam jantan mengawini induknya sendiri.”
“Bagaimana jika ayam betina malah mati sebelum ayam jantan mengawini induknya?” sanggah Baginda.
Peserta ketiga hampir pingsan, ia tak bisa lagi menjawab sanggahan Baginda Raja. Seperti peserta sebelumnya, ia juga dijebloskan ke penjara.
Kini, hanya tersisa Abu Nawas. Ia maju dengan ekspresi wajah biasa saja.
“Wahai Abu Nawas, lebih dahulu ayam atau telur?” tanya Baginda.
“Wahai Baginda, sesungguhnya telur lebih dulu ada,” katanya.
“Kok bisa begitu?” tanya Baginda.
“Soalnya ayam kenal telur, tapi telur nggak kenal ayam,” kata Abu Nawas.
Kini rakyat tidak lagi geleng-geleng kepala. Baginda Raja malahan yang geleng-geleng. Ia mengambil pundi-pundi emas dan memberikannya kepada Abu Nawas.
Apa makna yang dapat kita petik dari kisah tersebut?
Barangkali ada banyak, tetapi ada satu hal yang harus digarisbawahi: Tak ada satu pun yang lahir dari ruang kosong. Semua yang ada di dunia ini mempunyai asal-usul, termasuk manusia.
Manusia itu asalnya dari mana sih? Dari sperma yang dibuahi? Tentu saja, tapi siapa manusia pertama? Dan siapa yang membuahinya? Apakah manusia pertama menghasilkan sperma dan membuahinya sendiri sehingga ia melahirkan perempuan atau laki-laki dan –seperti kata peserta ketiga dalam kisah sayembara Abu Nawas– mengawini anaknya sendiri? Benarkah sebejat itu? Sebanal itukah?
Hampir setiap kelompok manusia di bumi ini punya cerita tentang asal-usulnya. Namun, dari sekian banyak kisah, mereka hanya menceritakan kelompoknya sendiri. Apa yang disebut dengan manusia adalah kelompoknya sendiri, dan tentu ada sebuah konsensus bahwa kita tak boleh membunuh sesama manusia. Makanya ada begitu banyak kelompok yang hobi membunuh manusia di luar kelompoknya, karena mereka dianggap bukan manusia.
Kisah penciptaan yang paling terkenal barangkali adalah kisah Adam dan Hawa. Ia tak hanya ada dalam agama Islam, melainkan juga Kristen dan mayoritas agama-agama yang lahir di jazirah Timur Tengah. Dalam tiap-tiap kitab suci mereka, tercantum kisah dengan berbagai macam versi yang garis besarnya sama.
Adam dan Hawa dibujuk untuk makan buah terlarang di surga dan akhirnya ketahuan oleh Tuhan. Mereka dihukum, dikeluarkan dari surga, dan dijatuhkan ke bumi. Hingga mereka berkembang biak dan melahirkan cucu-cucunya, termasuk kita ini.
Jikalau kita mengenal Adam dan Hawa, orang-orang Nordik (Skandinavia) punya Ask dan Embla. Ask adalah pria pertama dan Embla adalah wanita pertama. Alkisah, Odin (dewa utama dalam mitologi Nordik) sedang plesiran bersama dewa-dewa lain di pesisir pantai. Konon mereka menemukan dua batang pohon tercecer. Batang pertama, oleh Odin diubah menjadi Ask dan batang kedua dibuat menjadi Embla. Begitulah kisah asal-usul manusia yang berkembang di Nordik.
Orang Aborigin Tasmania di Australia juga punya kisah yang cukup unik. Konon mereka punya dua dewa yang saling menyerang, namanya Dromerdeener dan Moinee. Dalam satu peperangan yang terjadi di antara bintang-bintang, Moinee ditaklukan oleh Dromerdeener. Ia jatuh terhempas ke bumi Tasmania. Sebelum mati, Moinee menciptakan manusia agar ia tak mati sia-sia.
Akan tetapi, Moinee ceroboh. Ia lupa memberikan lutut pada manusia buatannya, ia malah memberikan ekor yang panjang, membuat manusia terlihat payah, dan tak bisa duduk. Manusia buatan Moinee –yang lebih mirip kanguru— tampak menderita, mereka berdoa pada dewa lain agar diberi pertolongan.
Dromerdeener yang sedang merayakan kemenangannya di langit, mendengar doa-doa manusia. Ia merasa iba, lantas turun ke bumi untuk memotong ekor mereka dan memberikan lutut. Begitulah asal-usul manusia. Akhirnya, mereka bahagia dan melanjutkan keturunan hingga kini. Masih ada kisah-kisah lain mengenai penciptaan. Mana yang harus kita percaya? Sebenarnya siapakah manusia pertama?
Ini tentu akan mudah bila kita hanya menggunakan satu cara berpikir, semisal, dari perspektif agama atau kepercayaan. Akan jadi mudah sebab kita hanya perlu percaya pada salah satu kisah yang dikisahkan dan tentu kita tak harus mengujinya. Namun, bagaimana jika kita menggunakan cara berpikir lain? Semisal menggunakan sudut pandang sains dengan sistem verifikasi ketat? Bagaimana jawabannya?
Mari kita susuri sejarah diri, sejarah kita sebagai manusia, juga asal-usul kita.
Richard Dawkins, seorang profesor biologi dari Universitas Oxford punya cara yang cukup keren untuk memperkenalkan sains dengan bahasa populer. Melalui bukunya, The Magic of Reality (2011), ia mengajak kita untuk menyusuri serta mencari tahu siapa manusia pertama dari sudut pandang sains. Jawabannya cukup mengejutkan: Tak ada yang namanya manusia pertama.
Setiap manusia lahir dari manusia, seperti setiap lemur lahir dari induk lemur. Tiap makhluk lahir dari spesies yang sama. Perkawinan antara lemur dengan manusia tentu tak akan menghasilkan keturunan.
Evolusi
Dawkins mengajak kita untuk melakukan percobaan pikiran. Kita hanya perlu menghidupkan imajinasi dan melakukan percobaan di dalamnya.
Ya, sebuah percobaan dalam imajinasi.
Ini tak bisa dilakukan secara harfiah, sebab kita akan mundur ke waktu yang sangat jauh. Kita belum punya mesin waktu untuk menjamahnya. Membayangkannya, kata Dawkins, akan memberikan pelajaran yang penting bagi kita.
Pertama, cari foto ayah Anda dan taruh di samping foto Anda. Kedua, cari foto kakek Anda dan letakkan di sebelah foto ayah Anda. Ketiga, cari foto buyut Anda dan letakkan di samping foto kakek Anda. Begitulah selanjutnya keempat, kelima, keenam dan seterusnya. Letakkan foto kakeknya kakek Anda dan kakeknya kakeknya kakek Anda. Kita hanya perlu meruntutnya hingga foto ke-185 juta. Ya, kita hanya butuh 185 juta foto untuk percobaan ini.
Setelah selesai, rentangkan foto tersebut dan amati antara satu foto dengan foto di sebelahnya. Semisal foto pertama dengan kedua, maka makhluk yang ada di foto tersebut akan terlihat mirip. Begitu pun foto keseribu dengan seribu satu, tidak akan ada perbedaan yang signifikan. Tapi coba tengok dan bandingkan, foto pertama dengan foto ke-185 juta. Anda akan terkejut, sebab yang akan didapati adalah foto manusia (foto Anda) dan foto ikan purba (foto ke-185 juta).
Kita telah melalui sebuah proses perubahan yang begitu lamban, ilmuan menyebutnya sebagai evolusi.
“Teori evolusi kan yang bilang kalau manusia itu asalnya dari monyet. Itu musyrik! Kalau manusia berasal dari monyet, kenapa sekarang monyet nggak berevolusi jadi manusia?”
Ini adalah salah kaprah mengenai teori evolusi yang paling sering kita dengar. Pertanyaan macam ini bahkan tak akan pernah bisa terjawab, sebab sudah salah sejak dari pertanyaan itu sendiri. Ya, pertanyaannya yang salah. Tak ada sepatah kata pun di The Origin of Species (1859) yang bilang kalau manusia asalnya dari monyet.
Untuk memahami teori evolusi, ada satu prasyarat yang harus dipenuhi, kita harus paham biologi. Beberapa yang mesti dipahami adalah materi mengenai genetika, hereditas, DNA, dan taksonomi biologi. Setelah mempelajari empat hal tadi, kita baru bisa berangkat ke pembahasan seleksi alam.
Adalah Carl von Linne (Carolus Lineus), orang Swedia yang kali pertama mengusulkan mengenai pembabakan kerajaan dalam biologi. Ia mengenalkan tujuh hierarki dalam pengelompokan makhluk hidup, yaitu kingdom, filum, kelas, ordo, famili, genus, dan spesies.
Setelah itu, mari kita bandingkan secara taksonomi, perbedaan dan persamaan monyet dengan manusia.
| Hierarki | Manusia | Monyet |
| Kingdom | Animal | Animal |
| Filum | Chordata | Chordata |
| Kelas | Mamalia | Mamalia |
| Ordo | Primata | Primata |
| Famili | Hominidae | Cercopithecidae |
| Genus | Homo | Macaca |
| Spesies | Sapiens | Fascicularis |
Dilihat dari taksonominya saja sudah beda antara manusia dengan monyet. Bisa-bisanya tanya, hari ini monyet kok nggak berevolusi jadi manusia? Ya jelas nggak bisa bro, spesiesnya saja sudah beda. Manusia ya manusia, monyet ya monyet. Nggak ada yang bilang kalau manusia berasal dari monyet. Apakah monyet bisa berevolusi? Tentu saja bisa, tapi tidak akan pernah menjadi Homo sapiens (manusia). Suatu spesies tidak akan pernah bisa berevolusi menjadi spesies yang sudah ada.
Agar bisa dijawab, pertanyaannya harus diubah: Apakah manusia berasal dari ordo yang sama dengan monyet? Kalau pertanyaannya begini, saya bakal menjawab: Anda betul sekali!
Namun, kenapa monyet tidak bisa berubah jadi manusia? Tentu nggak bisa, pertanyaan seperti itu sama dengan pertanyaan ini: Kok kucing nggak bisa jadi anjing? Nah, tambah pusing kan?
Rofi Ali Majid
Editor: Arummayang Nuansa Ainurrizki
