/

Pemutusan Akses Wi-Fi Dirasa Tidak Adil Bagi Mahasiswa

Gedung Puskom UNY. Dokumen istimewa.

Ekspresionline.com – Reaksi penolakan muncul terhadap pemutusan akses Wi-Fi kampus bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang belum lulus tes kemampuan Information and  Communication Technology (ICT). Hal tersebut dinyatakan  oleh Rafael Yudi Dwi Sulistiyanto, mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara angkatan 2018 ketika ditemui tim redaksi pada Kamis (25/10) kemarin. Rafael merupakan salah satu mahasiswa yang belum lulus tes ICT.

“Menurut saya tidak adil. Kita ‘kan sudah bayar (UKT,read), jadi itu ‘kan sudah termasuk fasilitas. Kenapa harus Wi-Fi yang diputus? Mungkin kalau gak lulus ICT caranya gak diputus Wi-Fi-nya, tetapi bisa dengan diulang saja atau ada alternatif lain”, ujar Rafael.

Rafael juga menyampaikan pendapatnya perihal pelaksanaan dan system penilaian tes ICT. “Menurut saya materinya sudah jelas. Namun, ketika hari ujian tiba, beberapa kuis di Be-smart tidak bisa dibuka. Jadi kita tidak bisa belajar dan latihan. Sistem penilaiannya ini juga tidak jelas. Pusat sepertinya hanya mementingkan nilai dari blog kita,” tambahnya.

Sampai saat ini, mahasiswa yang belum lulus tes ICT mencapai 2000 orang. Jenis ketidaklulusan tes ICT ada dua, yaitu tidak lulus penugasan blog dan tidak lulus ujian ICT. Mahasiswa yang tidak lulus penugasan blog hanya diminta melakukan revisi blog. Sedangkan mahasiswa yang tidak lulus tes ICT, akan diadakan pelatihan ICT sekitar 150 menit di waktu dan hari yang ditentukan. Kemudian, di akhir pelatihan,mahasiswa melakukan ujian atau tes ICT susulan.

Sementara itu, staf ahli Wakil Rektor I bidang akademik, Dr. Siswanto, M.Pd memberikan keterangan. Menurutnya, pemutusan akses Wi-Fi dilakukan sebagai pengingat bagi mahasiswa agar segara mendaftarkan diri untuk mengikuti tes ICT susulan.

“Pemutusan Wi-Fi itu hanya sekadar buat mengingatkan. Misalnya kamu belum lulus, lalu kamu daftar tes ICT susulan. Nah,nanti bisa on Wi-Fi lagi. Pengalaman dari tahun kemarin, perkiraan yang belum lulus itu 2000 orang. Sedangkan yang mendaftar hanya 200 orang. Dengan cara ini, yang tahun lalu mendaftar tes ICT susulan hanya 200 orang, maka tahun ini menjadi 1000 orang pendaftar. Kan ada peningkatan itu. Cara ini sudah efektif karena  terbukti terjadi peningkatan pendaftar”, jelas Siswanto.

Siswanto juga menegaskan bahwa sejauh ini sifat mahasiswa yang pasif menjadi kendala pelaksanaan ICT.

“Kendala kita hanya mahasiswa yang pasif dan menyadarkan mahasiswa itu penting.  Nah itu sudah ada di peraturan akademik bahwa ujian ICT ini wajib. Kalau belum lulus nanti tidak bisa lulus yudisium.  Sebab di peraturan akademik itu ada syarat-syarat yudisium. Ini kalau  tidak dikasih susulan nanti yudisium mereka bagaimana? Kami sudah memberi peluang untuk mereka yang malas, dll. Saya heran, mahasiswa malah menganggap itu sebagai pemaksaan,” tegasnya.

 

Novarenda Pawestri

Editor: Vitalia Tata

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *