Problem Era Digital
Ekspresionline.com–Hampir seminggu telepon genggam saya raib dicuri saat perjalanan menuju kampus. Dan sejak saat itu komunikasi saya menjadi terbatas. Terasa ada yang hilang dari diri saya. Biasanya, ketika membuka mata, telepon genggam sudah siap menyambut di pagi hari. Hampir seperti kantong ajaib Doraemon karena segala yang saya butuhkan ada di sana. Seperti layanan pesan makanan, aplikasi belanja daring, catatan harian, materi perkuliahan, portal berita, dan seabrek kebutuhan lain yang sanggup dipenuhi oleh pelbagai macam aplikasi dalam telepon genggam tersebut.
Kita, yang hidup di era digital ini, bisa menyaksikan terjadinya perubahan telepon genggam yang awalnya hanya bisa untuk mengirim pesan dan bertelepon menjadi mesin yang dapat melakukan kerja-kerja layaknya komputer. Banyaknya aplikasi seluler yang ditawarkan tersebut merupakan imbas dari pesatnya perkembangan teknologi yang ada.
Teknologi saat ini menawarkan banyak sekali kemudahan dan keuntungan bagi penggunanya: kemudahan mengakses berbagai fitur layanan. Akan tetapi, segala kemudahan tersebut bukanlah tanpa risiko. Di era sistem digital saat ini, faktor keamanan menjadi hal yang patut diperhatikan. Keamanan dalam sistem digital sangat rentan, apalagi jika dikaitkan dengan privasi seseorang.
Tiap kali memasang aplikasi baru pada perangkat, kita dihadapkan pada izin pengaksesan kontak nomor kartu perdana, galeri foto, dan syarat lain yang sering kali malas dibaca hingga tuntas oleh calon pengguna. Bermacam bentuk aplikasi sistem digital tersebut bak orang tua, teman, pacar, bahkan lebih dari itu. Sistem ini bagaikan malaikat pencatat amal baik dan buruk yang sering diceritakan oleh ibu saya dulu ketika hendak pergi tidur. Melekat pada tiap individu karena saking dekatnya.
Kecenderungan politik, orientasi seksual, bahkan perihal suka bubur diaduk atau tidak, saya kira lebih dipadami oleh sistem teknologi digital yang terbangun saat ini daripada diri kita sendiri. Semua terkoneksi dan menghasilkan sesuatu yang populer dan disebut dengan mahadata (big data). Sungguh menakjubkan, namun juga mengerikan.
Laporan CNET dilansir Tempo.co mengatakan para peneliti menemukan lebih dari 1.000 aplikasi Android yang melampaui batas, memungkinkan mengumpulkan data geolokasi yang tepat, dan pengidentifikasi telepon di belakang pengguna. Bahkan itu terjadi ketika pengguna menolak izin untuk data tersebut. Penemuan ini menegaskan terkait sulitnya menjaga privasi pengguna teknologi ketika berselancar di dunia maya.
Konektivitas antara telepon genggam dan aplikasi seluler menjadikan perusahaan teknologi memiliki segunung data pribadi tentang jutaan orang. Hal tersebut sekaligus terkait di mana mereka berada, apa yang mereka minati, dan pola pertemanan mereka.
Dilansir dari berita CNBC Indonesia pada 19 Agustus 2019, Profesor Sekolah Universitas New York, Scott Galloway, melabeli Mark Zuckerberg sebagai manusia paling berbahaya di dunia. Bayangkan aplikasi Instagram-Facebook-WhatsApp dalam satu relasi kepemilikan dengan 2,7 miliar pengguna setiap bulan! Hal tersebut tidaklah berlebihan jika dilihat dari jumlah data dan dampak sosial, ekonomi, bahkan budaya yang ditimbulkan karena media sosial tersebut. Saya membayangkan bagaimana orang-orang dengan motif tertentu dan ambisi kuat menguasai dunia dengan bantuan propaganda media yang populer dipakai di berbagai penjuru dunia ini.
Contoh kerja-kerja propaganda yang akhirnya berimplikasi secara luas sudah lama terjadi. Noam Chomsky dalam bukunya Politik Kuasa Media menjabarkan terkait kelas buruh yang mampu menembus kursi legislatif tahun 1935. Hal tersebut dianggap sebagai suatu keanehan atau penyimpangan bagi kalangan eksekutif pembuat kebijakan. Akhirnya, mereka memainkan posisi humas untuk merekonstruksi ulang pandangan penduduk Amerika ketika para buruh melakukan aksi. Stigma negatif didengungkan pada aksi mogok kerja buruh di Pennsylvania, Johnstown waktu itu.
Dengan kemajuan teknologi digital saat ini dan dengan banyaknya pilihan media yang bisa digunakan, tentu kerja-kerja propaganda jauh lebih masif. Kita bisa melihat fenomena buzzer menjelang pemilu di Twitter beberapa waktu lalu atau fenomena demonstrasi rakyat Indonesia yang menentang UU pelemahan KPK serta beberapa isu lainnya.
Kasus-kasus penjualan data-data nasabah dan skandal Facebook dengan Cambridge Analytica yang dapat mengubah wajah perpolitikan Amerika dapat dijadikan sebagai contoh lain. Dari Laporan VOA (22 Maret 2018), Cambridge Analytica ini juga disinyalir telah berkontribusi dalam pemilu di Afrika atas kemenangan Mandela hampir dua dekade sebelumnya .
Kita benar-benar bertekuk lutut pada sistem yang saling terhubung oleh teknologi dalam genggaman tangan ini. Manusia dibuat ketergantungan oleh layanan yang ada dalam fitur-fitur digital. Dari kebutuhan dasar seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal ada dalam sentuhan tangan. Bahkan tanpa perlu repot untuk beranjak dari tempatnya berada. Semua telah tersedia. Pertemanan lewat sosial media, bahkan urusan seperti aplikasi pencarian pasangan juga ramai dipergunakan. Layaknya kongsi-kongsi dangang, semua aplikasi layanan tersebut bersatu-padu dan dengan mudahnya memonopoli kehidupan seorang individu.
Kasus telepon seluler saya yang hilang beberapa waktu lalu menjadi contoh lain perihal lemahnya manusia modern saat ini ketika berhadapan dengan teknologi digital. Sistem di dalamnya mengharuskan saya untuk mereset semua akun media sosial dan layanan surel, melakukan back up data, serta membuat laporan kepolisian agar informasi yang ada dalam gawai tersebut tidak disalahgunakan. Bahkan ketika benda tersebut hilang, ia masih meninggalkan banyak PR bagi penggunanya. Jejak digital memang begitu kejam. Dan kita hidup di dalamnya.
Sebagai manusia yang hidup di era digital seperti saat ini sangat sulit untuk tidak ikut dalam arus pertukaran informasi digital yang ada. Keberpihakan para pemilik platform pada kepentingan publik demi terjaganya data-data pribadi pengguna aplikasi haruslah menjadi poin utama. Terlebih kepercayaan merupakan hal utama dalam terbangunnya relasi antara pemilik platform dengan pengguannya.
Jika poin tersebut tak lagi dihargai dan dapat menjadi jembatan penghubung antarkeduanya, tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang konflik dan gerakan penolakan akibat ketidakpuasan dan kekecewaan publik muncul. Dan pemerintah sebagai pihak yang memiliki kuasa atas regulasi dan kebijakan seharusnya memandang rakyat sebagai entitas luas dan harus dilindungi.
Berlapisnya kepentingan yang dibawa oleh tiap individu atau golongan membuat peran teknologi digital ini semakin kompleks dan bias. Kepentingan-kepentingan tersebut tak jarang membuat masyarakat pada umumnya menjadi korban yang akhirnya menimbulkan konflik horizontal dalam masyarakat itu sendiri.
Lambatnya pemerintah dalam merespons perkembangan teknologi juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan konflik-konflik muncul. Bahwa teknologi yang berkembang dengan pesat harus juga dibarengi dengan aturan-aturan yang siap untuk menampung kedatangannya. Hal ini bertujuan agar masyarakat tak menjadi bahan uji coba dan akhirnya menjadi pihak yang dirugikan.
Latifah Diah Azhari
Editor: Fiorentina Refani
