/

Riwayat Petasan di Nusantara

Petasan/ilustrasi via Pixabay

Ekspresionline.com–Mengakhiri Syakban, mulai terdengar saling sahut suara petasan di sekitar rumah, diiringi riuh tawa bocah-bocah. Mereka saling memamerkan petasan masing-masing. Mulai dari petasan korek, kretek, disko, injek, hingga kembang api yang baru saja dibeli.

Entah selepas sahur, di sela tarawih, atau sebagai pelengkap malam takbiran, menyulut petasan seperti sudah menjadi tradisi yang terus dilakukan masyarakat dari tahun ke tahun.

Tradisi seperti ini bukan sesuatu yang baru dan akhir-akhir ini saja terjadi. Di awal abad 20, Muhamad Radjab menceritakan kisah serupa dalam buku otobiografinya berjudul Semasa Kecil di Kampung (1950). Radjab menceritakan bagaimana di rumahnya yang dekat Danau Singkarak, petasan juga menjadi hal istimewa setiap Ramadan.

Anak-anak di sana tidak sabar menggunakan uang saku dari orang tuanya untuk membeli petasan dan membuat meriam betung, yang mana keduanya hanya dimainkan saat bulan puasa. Di awal Ramadan hanya ada sedikit penjual petasan, akan semakin banyak dijajakan seiring mendekatnya lebaran.

Padahal, petasan bukanlah alat permainan yang cukup aman untuk dimainkan terus-menerus, apalagi dalam jumlah banyak. Ledakan yang ditimbulkan petasan, berisiko menimbulkan luka bakar, melukai mata, hingga menyebabkan kebutaan. Selain itu, zat kimia yang terkandung di dalamnya juga bisa menyebabkan keracunan.

Risiko tersebut bisa dilihat dari banyaknya insiden yang disebabkan oleh petasan di Indonesia. Awal tahun ini saja, kita sudah disuguhi berita seseorang yang terkena letupan kembang api di perayaan malam pergantian tahun. Masih di awal tahun, ada pula pembacokan bermotif dendam karena terkena lemparan mercon. Belum termasuk kasus terbakarnya pabrik petasan yang menelan banyak korban.

Risiko tersebut menjadi acuan pelarangan petasan dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 12/DRT/1951 dan Pasal 187 KUHP yang melarang penggunaan, pembuatan, pendistribusian, dan penimbunan petasan.

Bagi pedagang petasan, kemungkinan dagangannya dirazia polisi terus menghantui, karena adanya larangan tersebut. Seperti pada kasus penyitaan 52 ribu petasan dari pedagang di Indramayu. Atau penangkapan sopir dan kenek truk yang sedang mendistribusikan 5 juta petasan korek ke Jakarta.

Meskipun penggunaan, pendistribusian, dan produksi petasan memiliki banyak risiko yang cukup membahayakan, namun tradisi ini masih tetap lestari.

Cerita mengenai petasan yang berbahaya pun pernah dituliskan Amiroeddin dalam buku otobiografinya. Diceritakan kisah seorang bocah di Temanggung, yang heran karena mercon tikus yang sudah disulut bapaknya tak kunjung berbunyi. Kemudian, pergilah bocah itu ke dapur untuk mencari bara api guna menyulut ulang merconnya. Saat mercon mengenai bara, bunga api menyembur dari situ, diikuti bunyi serangan bedil. Sang bocah berteriak. Ia terkena semburan bunga api. Bapak ibunya datang dengan histeris.

Kisah di akhir abad 19 tersebut menunjukkan, sejak dahulu masyarakat sudah gemar bermain petasan. Dengan mengetahui risikonya pun tidak menghilangkan keistimewaan petasan secara signifikan.

Sejarah Petasan

Petasan yang sudah melebur dengan kebiasaan masyarakat kita ini, mulanya berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Dua ratus tahun sebelum masehi, Cina mulai mengenal bazhou, peledak yang berasal dari bambu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Cina, bazhou tidak sengaja ditemukan oleh seorang juru masak. Saat itu ia memasak menggunakan bambu dengan campuran berbagai bahan termasuk batu bara, sulfur, dan potasium nitrat. Ketika dibakar di tungku, tiba-tiba terjadi ledakan hebat.

Legenda lain menyatakan bahwa bazhou pertama muncul di masa Dinasti Han (206 SM–220 M). Bazhou dinyalakan saat upacara perayaan hari besar, untuk mengusir makhluk gunung yang suka mengganggu. Sejak saat itu petasan mulai populer digunakan pada setiap perayaan maupun festival di Cina.

Dalam Sparklers from China (2005) perkembangan petasan dilanjutkan dengan penemuan bubuk mesiu—yang kemudian dijadikan bahan utama petasan—oleh seorang pendeta bernama Li Tian, antara 960-1279 M pada era Dinasti Song.

Kepercayaan bahwa roh jahat takut dengan suara keras, membuat mesiu yang memiliki daya ledak dan menghasilkan suara lantang mulai digunakan. Bambu yang berisi mesiu dibakar kemudian ditembakkan ke tanah dan menghasilkan suara gemuruh yang keras. Lambat laun, tabung bambu disubstitusi dengan tabung dari kertas warna merah, agar lebih efisien.

Lantas, sejak kapan petasan mulai menjadi bagian dari tradisi di Indonesia?

Petasan masuk ke nusantara, awalnya dibawa oleh para pedagang Cina yang berniaga kemari sejak zaman kerajaan.

Setelah VOC datang menguasai, pernah dikeluarkan larangan membakar petasan, terutama saat musim kemarau. Hal tersebut dilakukan karena dapat memicu kebakaran di kebun-kebun dan wilayah berpenduduk. Apalagi rumah-rumah saat itu masih terbuat dari bambu dan beratap rumbia.

Pernah pada 1912, terjadi keributan di Surabaya karena larangan penggunakan petasan tersebut. Masyarakat keturunan Tionghoa yang sedang menyambut Imlek tidak setuju, karena bagi mereka membakar petasan dan kembang api merupakan simbol untuk mengusir roh jahat sekaligus membawa berkat dan kebahagiaan pada tahun yang akan datang. Pelarangan tetap berlanjut hingga memicu konflik sosial politik. Hal tersebut disampaikan Marieke Bloembergen lewat buku Polisi zaman Hindia Belanda: dari kepedulian dan ketakutan (2011).

Ketika petasan sudah masuk ke Batavia, tradisi membakar petasan mulai banyak dilakukan. Selain saat Ramadan dan lebaran, juga dilakukan untuk perayaan Natal, tahun baru, serta ritual-ritual masyarakat Cina. Di Betawi pinggiran, petasan menjadi pelengkap acara perkawinan, khitanan, bahkan upacara pemberangkatan haji.

Selain untuk perayaan, petasan juga digunakan sebagai alat komunikasi antar warga dan kampung di Betawi. Jarak antar rumah yang jauh dan sepi membuat petasan efektif digunakan sebagai alat pemberitahuan. Sehingga jika salah satu dari mereka ingin mengadakan hajatan, mereka menyalakan petasan sebagai pertanda.

Dalam hal ini, Zeffri Alkatiri dalam Jakarta Punya Cara (2012) menawarkan sudut pandang lain. Ia menyatakan, “Tradisi membakar petasan juga dapat menunjukkan gengsi seseorang. Sebab, semakin banyak sampah bekas bakaran petasan di rumahnya, semakin dianggap kaya atau semakin menunjukkan kemampuan modal mereka.”

Setiap kali ada warga yang mengadakan hajatan, petasan dibunyikan sebagai bukti kemampuan modal mereka. Makin banyak petasan yang dinyalakan dan semakin jauh terdengar ledakannya, secara tersirat menyatakan bahwa yang memiliki hajat berstatus sosial lebih tinggi.

Begitulah awalnya, bagaimana petasan dan kembang api tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat kita. Menurut Alwi Shahab, seorang pengamat sejarah Betawi, dekatnya tradisi Tionghoa dengan kehidupan sehari-hari pribumi berhasil membuat petasan cepat diadaptasi.

***

Tahun ini, Ramadan berlangsung dengan suasana yang berbeda. Kebijakan pshychal distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di beberapa daerah membuat euforia bermain petasan di saat Ramadan menjadi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Namun, peraturan tersebut seakan dianggap angin lalu oleh sebagian masyarakat. Belum lama ini, di DKI Jakarta yang menerapkan PSBB, sekumpulan remaja ditangkap satpol pp karena berkeliling membangunkan sahur dengan membunyikan petasan. Mereka dinilai membuat keributan dan tidak mematuhi aturan PSBB.

Di lain tempat, Polsek Pringsewu Kota memergoki remaja yang sedang perang petasan. Basuki selaku Kapolsek memberi imbauan kepada para remaja bahwa selama masa pandemi tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang bersifat mengumpulkan masa seperti itu.

Semakin ketatnya larangan bermain petasan di masa pandemi ini jelas membuat perbedaan besar terhadap suasana Ramadan. Namun seperti yang sudah-sudah, keseruan bermain petasan akan tetap menggelora di hati para penikmatnya. Keriangan yang akan diteruskan pada generasi-generasi berikutnya.

Melekatnya tradisi petasan juga dirasakan oleh proklamator Indonesia Soekarno. Seorang kolumnis dari Amerika Serikat Cindy Adams sempat mengabadikan kesenangan Soekarno terhadap petasan. Dalam Bung Karno: penyambung lidah rakyat Indonesia (1965), Soekarno kecil pernah bersedih, tidak dapat bermain petasan seperti teman-temannya karena faktor ekonomi. Ia hanya bisa menikmati petasan dari balik dinding kamarnya, dengan mengintip. Hingga suatu hari, kolega ayahnya bertandang dan memberikan Soekarno petasan yang didambakannya.

“Tak ada harta, lukisan atau pun istana di dunia ini yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu. Tak dapat kulupakan untuk selama-lamanya,” ungkap Bapak Proklamator Indonesia ini.

Arummayang Nuansa Ainurrizki

Editor: Fadli Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *