Tentang Perempuan yang Tak Punya Pilihan
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2003
Jumlah halaman: 325
Ekspresionline.com—Sudah sejak lama perempuan tak memiliki kekuasaan atas pengambilan keputusan mengenai tubuh dan masa depannya. Tak mengindahkan soal akal dan hati, perempuan dilihat sebagai gumpalan daging bervagina saja.
Beberapa sastrawan membicarakannya dalam novel. Ahmad Tohari dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya, misal. Novel terbitan 1982 ini bercerita tentang anak perempuan bernama Srintil yang menjadi ronggeng sejak sebelas tahun. Ia dipisahkan dengan masa kecilnya, dijatuhi tugas untuk menghibur-menari selama hidupnya atas nama tradisi.
Pramoedya Ananta Toer juga menuliskannya dalam Gadis Pantai (1987)—kisah getir seorang gadis di kampung nelayan di Rembang yang hidup dalam feodalisme Jawa. Tak peduli apa kata gadis itu, ia tak boleh bilang tidak ketika pembesar di sana mengambilnya menjadi gundik dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sederajat dengannya.
Si gadis pantai tak pernah berdaya untuk menolak. Sebab, di kampungnya, yang demikian adalah prestise. Penduduk kampung justru akan bersuka untuk memberikan gadis dari kampungnya kepada pembesar menjadi Bendoro Putri. Gadis itu, tentu bukan atas kehendaknya, kehilangan dirinya sebagai manusia dan menjadi upeti raja saja.
Dari belahan dunia lain, ada Xinran yang menulis soal anak perempuan yang lazim dibunuh sejak hari kelahirannya, sebab dianggap tak menguntungkan seperti anak lelaki. Diskriminasi ini terjadi di perdesaan Cina pada akhir abad ke-20, dan ditulis Xinran dalam Kisah Sejati Ibu yang Kehilangan Buah Hati (2010).
Begitu pula dengan Remy Sylado, sastrawan yang juga seorang munsyi, menuliskannya dalam Kembang Jepun; sebuah representasi peradaban manusia yang sedikit-banyak mengecewakan di bumi bagian selatan. Tepatnya di Hindia Belanda, bakal Indonesia. Remy menghidupi tokoh utamanya—Keke—dengan usia yang panjang. Dan karenanya, novel ini mengizinkan pembacanya untuk mengintip kehidupan di sana dari masa kolonial Belanda, masa kolonial Jepang, hingga masa pascakemerdekaan Indonesia.
Membaca Kembang Jepun adalah membaca catatan hidup Keke, seorang perempuan yang sejak awal tak diberi kesempatan untuk memilih. Satu kalimat yang kelak menjadi akrab sekali dengan hidupnya adalah, “Selanjutnya, terserah nasib saja!”
Ia mendadak menjadi geisha. Delapan tahun setelah lahir dan hidup di bumi Manado, ia dibawa ke Surabaya dan dijual kepada Kotaro Takamura oleh kakanya sendiri, Jantje—bekas pasukan marsose yang matanya picek sebelah berkat Perang Aceh. Lalu melanjutkan hidup sebagai penjudi dan pemabuk dengan uang pensiunan sersannya. (Tetapi kemudian ia menambah gelarnya sebagai pelaku perdagangan manusia).
Ini terjadi pada 1930 di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, sudah ada Jepang totok yang tinggal di Hindia Belanda. Ada beberapa hal yang menyebabkan orang Jepang pergi dari negerinya. Takamura sendiri memutuskan untuk merantau ke Hindia Belanda pada 1919 sebab tak tahan untuk hidup berdampingan dengan peraturan undang-undang yang diproduksi kuasa militer Jepang. Salah satu peraturan yang membuatnya angkat kaki dari Negeri Sakura itu adalah mengenai berlakunya buku besar tentang status seseorang, yaitu mencatat garis keturunan serta aturan perkawinan yang tidak terdaftar di bawah pemerintahan Okumu Shigenubo pada tahun 1914.
Ia menilai undang-undang itu melenceng dari nilai tradisional Jepang yang luhur ke dalam selera Barat yang miskin rasa. Tak betah berlama-lama, lima tahun kemudian ia sudah berada di Hindia Belanda. Mula-mula Takamura bertempat di Batavia. Tetapi kemudian hijrah ke Surabaya karena merasa kota ini lebih tepat untuk iklim bisnisnya, dan bisnis prostitusi adalah jalan hidup Takamura. Ia namai tempatnya dengan sebutan Shinju.
Keke yang berusia delapan tahun dan masih belum mengerti banyak, pasrah dan menurut saja ketika diminta tinggal di Shinju. Meskipun yang Keke tahu, ia akan pergi ke Jawa untuk bersekolah di Batavia. Bukan untuk menjadi geisha. Apa pula geisha itu? Di usia itu, seharusnya ia masih bermain di kali bersama teman-temannya, mencari belut, bermain dakon, atau membuat gelembung dari sabun.
Tetapi nasib membuat ia–tanpa kehendaknya–berada di Shinju. Berpisah dengan masa kanak-kanaknya, dan kehilangan Minahasanya. Ia dididik menjadi Jepang. Namanya berubah menjadi Keiko (dan lagi-lagi, tanpa kehendaknya). Kehidupan geisha-nya membuat ia bebahasa dan berpakaian Jepang.
Menginjak usia ke-14, Keke mulai memberi layanan seks kepada lelaki. Yang satu ini, seiring berjalannya waktu, tanpa disadari, telah menjauhkan Keke dari kepekaan rasa dan memengaruhi paradigmanya. Ia tak percaya ketulusan, juga kasih sayang.
Hingga pada suatu waktu, ia bertemu salah satu pelanggannya, Tjak Broto: wartawan Tjahaja Soerabaya yang sekaligus seorang nasionalis. Pelanggan yang satu ini membuat Keke kikuk sekaligus terharu, sebab terkejut pada dirinya sendiri yang perlahan mengenal rindu.
Keduanya jatuh hati kemudian dan memutuskan untuk menikah pada 1941. Namun, ia tak dapat restu sebab ibu dan adik Tjak Broto, Rahajoe, menaruh sentimen pada perempuan yang bekerja sebagai geisha. Bagi mereka, itu tak berbeda dengan pelacur.
Keke yang selama hidupnya berkutat di Shinju saja, terkejut benar dengan kenyataan itu. Ia tak pernah tahu bahwa menjadi geisha adalah aib. Beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai sampah masyarakat.
Selama ia di Shinju, ia diajarkan bahwa geisha adalah pribadi seni. Dalam budaya Jepang, geisha menempati derajat tinggi. Geisha bukan pelacur, ia mesti bisa menguasai seni menyanyi, mengerti lagu dan puisi Jepang, memainkan shamisen dan taiko, menuangkan teh dan sake, hingga mengenakan kimono yang rumit dan beragam.
Tetapi, di mata ibu Tjak Broto dan Rahajoe, ia tetap aib. Padahal, padahal, banyak pelacur yang merupakan korban perdagangan manusia, seperti Keke. Dan sungguh besar sekali ganjaran yang harus diterima para pelacur itu. Dikucilkan masyarakat, dianggap kotor, tak dianggap keluarga, dan sebagainya, dan sebagainya.
Konstruk masyarakat kita memang tidak berpihak pada perempuan pekerja seks. Perempuan baik adalah perempuan yang senantiasa manut, cakap dalam mengerjakan pekerjaan rumah, tidak vulgar, dan tentu saja, perawan. Kehormatan perempuan kerap dilekatkan dengan utuh-tidaknya selaput dara mereka. Perempuan tak diberi ruang untuk mengekspresikan seksualitasnya. Sebaliknya dengan laki-laki, mereka dikonstruk sebagai pihak yang agresif secara seksual. Maka, perempuan yang menampakkan seksualitasnya dianggap menyimpang.
Membaca Kembang Jepun juga bak membuka luka lama. Tahun 1945, ketika terjadi pemberontakan Peta terhadap Jepang pada 14 Februari di Blitar, Tjak Broto ditahan. Bukan sebab ia turut menjadi tentara Peta juga, melainkan karena kesaksian Paimin, kawan lama Tjak Broto. Paimin adalah komunis yang turut merencanakan pemberontakan tersebut. Sudah sejak dua tahun sebelum pemberontakan terjadi, sebagai strategi, ia bergabung dengan tentara Peta untuk mengawasi romusha yang ditugaskan membangun kubu-kubu pertahanan di pantai selatan Blitar.
Pascapemberontakan, semua pelaku melarikan diri ke Kelud dan sekitar Bululawang, juga ke Serang di selatan Blitar. Namun kemudian tertangkap. Ketika pemeriksaan, Paimin menyebut nama Tjak Broto sebagai intelektual yang mendukung gerakan mereka.
Keke yang khawatir setengah mati segera saja menyusul ke Kantor Kampeitai (polisi militer Jepang) sehari setelah penangkapan Tjak Broto. Ia memohon untuk dipertemukan dengan suaminya, tetapi si Jepang menghendaki pemerkosaan sebelum Keke diizinkan bertemu Tjak Broto. Tentara Jepang memang tercatat dalam sejarah sebagai tentara yang kejam dan ringan tangan.
Hal tersebut membawa kita pada sejarah suram tentang perempuan-perempuan di Hindia Belanda yang disebut sebagai Jugun Ianfu yang dipaksa melayani kebutuhan seks tentara Jepang. Pramoedya Ananta Toer membantu kita mengingat peristiwa tersebut melalui karyanya Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (2001).
Bertolak dari sulitnya hubungan laut dan udara akibat Perang Pasifik, Jepang tak lagi bisa mendatangkan perempuan penghibur dari Jepang, Cina, dan Korea. Sebagai gantinya, para perempuan Hindia Belanda dijadikan tumbal atas nafsu berahi tentara Jepang. Jepang melakukan propaganda dan berjanji akan menyekolahkan para perempuan tersebut di Tokyo dan Shonanto sebagai upaya untuk persiapan membangun negara Indonesia setelah merdeka. Para pejabat pemerintah juga diminta untuk mengirimkan putri mereka berkenaan dengan keperluan tersebut. Namun, pasca diberangkatkan dengan kapal, alih-alih berlabuh di sebuah sekolah, mereka diturunkan di daerah-daerah koloni Jepang untuk menjadi budak seks, seperti di Pulau Buru, Maluku.
Hingga masa pendudukan Jepang usai, banyak dari perempuan tersebut yang tidak kembali ke kampung halamannya sebab tak berani dan menanggung malu. Pram mencatat, beberapa dari mereka kemudian berkeluarga dengan penduduk setempat, Suku Alifuru.
Tindakan tersebut—menjadikan perempuan sebagai budak seks—tidak hanya dilakukan oleh Jepang saja dan pada waktu itu saja. Hal itu kerap terjadi pada masa perang di berbagai daerah.
Dilansir dari laporan Tirto, dalam pendudukan Siprus pada 1974, pasukan Turki secara sistematis melakukan perkosaan terhadap perempuan setempat. Bahkan ada kasus di mana para tentara Turki memperkosa 25 gadis yang kemudian mereka serahkan ke atasan untuk kembali diperkosa. Juga dalam perang kemerdekaan Bangladesh yang usai pada 1971, pasukan Pakistan gencar melakukan razia, memperkosa perempuan, dan memboyong mereka ke barak-barak tentara. Terbaru, pada Agustus 2014, kelompok ISIS di Irak menculik ratusan perempuan Yazidi untuk dijadikan budak seks.
Itu hanya sedikit contoh dari sekian banyak kasus dalam sejarah peradaban manusia. Barangkali, barangkali, apabila dituliskan seluruhnya, bisa dijadikan buku sendiri.
Perkosaan dalam peristiwa-peristiwa tersebut tak berhenti sebagai kekerasan fisik berbalut nafsu berahi saja. Pemerkosaan adalah tentang kekuasaan. Ia adalah strategi untuk meneror, menghukum, mempermalukan, dan meruntuhkan mental korban beserta masyarakatnya, serta menguatkan ikatan antarserdadu. Pemerkosaan kemudian adalah strategi perang, dan perempuan menjadi tumbalnya.
Lembaran-lembaran novel Kembang Jepun bak satu catatan yang membawa kita pada catatan-catatan lain tentang sejarah getir perempuan—bahwa keputusan atas tubuh dan masa depan ada pada sesuatu yang di luar diri sendiri.
Sabine Fasawwa
Editor: Ikhsan Abdul Hakim
