Tinta Pink di Kertas Putih: Buku Harian yang Perlu Kita Baca
Produser: Arami Kasih
Durasi: 12 menit
Tahun: 2017
Ekspresionline.com–Sekawanan anak usia sekolah dasar sedang bermain-main. Mereka menyusuri sungai sambil mendendangkan lagu kesukaan. Meski bawahan mereka basah dan bau amis, nyaring tawa masih terdengar di telinga.
Tak jauh dari situ, muncul lelaki setengah baya. Ia datang dari kampung sebelah. Suka mengenakan celana pendek dan topi dengan motif polkadot. Ia terkenal kerap berbicara dengan kucing. Lakunya tak seperti orang seusianya. Kadang ia merengek, sedikit berbisik, seperti merapal mantra atau semacamnya, lalu sesekali suaranya menjadi begitu lirih seperti menangis.
Karenanya, ia dicap sinting. Dan tanpa ada aba-aba, seperti sudah menjadi kebiasaan, sekawanan anak tadi menyoraki lelaki itu dengan serentak. “Orang gila! Orang gila!” ujar mereka, seperti sedang menyerukan sebuah yel-yel kelompok pramuka. Mereka menyerukannya dengan disertai tepukan tangan pula.
Seolah sungai di sana menjadi tak menarik lagi, anak-anak itu lantas mengikuti ke mana perginya lelaki dengan cap sinting di dahinya, masih dengan sorak-sorai yang riuh itu. Merasa risih, lelaki itu lantas melempari sekawanan anak tadi dengan apa saja yang ada di dekatnya. Seketika itu juga, mereka bubar–melarikan diri ke segala arah bak bola biliar dikenai tongkat sodoknya.
***
Pabila gambaran di atas tak asing bagimu, bahkan justru mengingatkanmu akan masa kecil, barangkali kita besar dan dibesarkan di lingkungan serupa dengan cara yang tak jauh berbeda.
Kita tak pernah tahu (atau tak mau tahu?) dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada lelaki itu. Yang kita tahu hanya bahwa orang tersebut berbeda dengan kita. Ia tak sama, dan kebetulan terlihat aneh bagi kita. Disadari atau tidak, hal itu membuat kita merasa pantas untuk merundung orang seperti lelaki tadi.
Ketidaktahuan banyak orang itulah yang mendorong munculnya film dokumenter Tinta Pink di Kertas Putih. Sekawanan mahasiswa ISI Yogyakarta berusaha membawanya ke permukaan. Mereka adalah Arami Kasih, Bunga Nindiah, Nurrul Wulan, Ryanta Ronaldy, dan Yuzakki Gilang yang tergabung dalam produksi Godhong Gedhang Film. Selain melalui penuturan langsung dari narasumber, pembuat film memvisualisasikan cerita melalui wayang kertas sederhana.
Adalah Budiyati yang diusung dalam film dokumenter ini. Mbak Budi, sapaan akrabnya. Perempuan 37 tahun yang menerima perlakuan serupa dengan apa yang dialami lelaki dalam gambaran di atas. Ia tinggal bersama simbok dan bapaknya di daerah Gabusan, Bantul, Yogyakarta. Dalam kesehariannya, ia melakukan kerja-kerja domestik sembari menjaga warung keluarganya. Ia tak pernah merasakan bangku sekolah menengah –hanya sampai kelas V sekolah dasar saja pendidikannya.
Di samping itu, Mbak Budi adalah perempuan periang yang suka berkawan dengan boneka. Ia juga senang sesuatu yang cerah. Mbak Budi gemar pakai kutek warna-warni di jarinya, selain membubuhkan eye shadow terang di kelopak matanya. Kalung merah muda dengan karakter kartun juga merupakan aksesoris yang melekat pada diri seorang Mbak Budi.
Film dokumenter Tinta Pink di Kertas Putih ini bak buku harian Mbak Budi yang perlu dibaca semua orang. Secara spesifik, film ini menyorot satu hal: kisah asmara Mbak Budi. Ia belum menikah di usianya yang hampir kepala empat. Dan di hadapan kamera, di bawah temaram cahaya lampu kuning kamarnya, Mbak Budi menceritakan perjalanan cintanya.
Dengan bersemangat, Mbak Budi berujar, “Cinta pertamaku: Mas Roni!” Ia adalah satu dari beberapa nama lelaki yang disebut Mbak Budi. Ada Erwin, Luki, Andri, dan Sulis. Mbak Budi mengenalnya dari lingkungan tempat tinggal yang sama.
Selain saling sapa ketika jumpa di jalan, komunikasi antara Mbak Budi dan lelaki yang ia sebut dalam ceritanya itu terjadi melalui surat. Sehari-hari, Mbak Budi kerap berbelanja di swalayan dekat rumahnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kasir swalayan itulah yang menjadi perantara surat-menyurat.
Masing-masing orang adalah pengalaman tersendiri bagi Mbak Budi. Namun, adalah satu hal yang pasti: kesunyian. Tiap-tiap orang yang hadir hanya membuat keriuhan sejenak. Mereka selalu pergi kemudian dan membuat Mbak Budi menjadi satu-satunya yang kehilangan. Pada akhirnya, Mbak Budi selalu kembali pada kesunyian.
Seiring tutur cerita Mbak Budi, jelas kemudian bahwa apa yang ia ceritakan dengan bersemangat itu hanya lelucon belaka bagi orang di lingkungannya. Seiring itu juga, kita tahu bahwa Mbak Budi adalah penyandang disabilitas mental, sama seperti lelaki yang membuka tulisan ini.
Retardasi mental, sebutannya. Suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap. Terutama ditandai oleh adanya gangguan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Penyebab retardasi mental meliputi keturunan atau gen dari orang tua, pola hidup dan pola makan ibu pada masa kehamilan, ataupun umur ibu pada masa kehamilan.
Hal tersebut membuat Mbak Budi memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata yang menyebabkan ia mengalami gangguan adaptasi sosial, tidak berlaku seperti orang seusianya, terkesan polos dan memaknai segala sesuatu secara mentah. Dari sinilah perlakuan tak pantas datang pada Mbak Budi dan penyandang retardasi mental lainnya. Ada anggapan bahwa mereka aneh, bodoh, dan dapat dibodohi.
Mengenai kisah cinta Mbak Budi dan perlakuan yang didapat karenanya, itu baru satu hal. Perlakuan serupa juga muncul dari keluarga Mbak Budi sendiri. Ia bahkan mengetahui dengan jelas bahwa bapaknya malu akan keberadaan Mbak Budi.
Ia sempat bercerita mengenai masa sekolah dasarnya dulu, “Waktu ambil rapot, aku tinggi sekali, temanku kecil-kecil, Bapak malu, ngerti temanku kecil-kecil.” Mbak Budi juga kerap dimarahi karena senang pakai kutek dan main boneka. Katanya, “Aku pingin apa-apa, [tetapi] dimarahi sama Bapak. Enggak boleh. Aku sering dimarahi, sampai nangis.”
Bapak Mbak Budi kerap kali melampiaskan rasa malunya dengan kemarahan. Namun, posisi bapak Mbak Budi juga bukan sesuatu yang sederhana. Dalam film, mungkin ia terkesan sebagai sosok orang tua buruk yang kejam atau egois. Tetapi, perilakunya tak muncul dari ruang hampa. Nilai yang dianut masyarakat mengenai disabilitas mental telah membentuknya. Selama ini, disabilitas mental dianggap sebagai aib. Sikap bapak Mbak Budi adalah representasi dari bagaimana perlakuan lingkungan sosial padanya.
Tiap-tiap kita berkontribusi terhadap penciptaan kondisi lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala perundungan, termasuk terhadap penyandang disabilitas mental.
Sayang betul, terutama dalam institusi pembelajaran masyarakat, seperti lembaga keluarga dan sekolah, ihwal pengajaran dan pembiasaan mengenai penyandang disabilitas mental tidak pernah dilakukan dengan serius. Bahwasanya kondisi Mbak Budi dan penyandang retardasi mental lainnya bukan sesuatu yang aneh atau berbeda. Kondisi demikian memang ada dan tak menuntut perlakuan apa pun dari yang lain, dan merupakan varian lain saja dari kita, individu-individu yang ada di masyarakat.
Oleh karenanya, bahkan sejak dalam pikiran, kita selalu kesulitan dan perlu berusaha untuk memberinya tempat setara dengan orang lain yang kita anggap normal. (Ah, bahkan penggunaan istilah ‘kita’ dan ‘mereka’ dalam tulisan ini barangkali sudah merupakan sebuah gap).
Tinta Pink di Kertas Putih ini menegaskan bahwa ada hal-hal yang dikesampingkan oleh masyarakat, padahal itu adalah bagian dari masyarakat sendiri. Hanya saja, masyarakat kita tak pernah menerimanya sebagai bagian dari realitas; bagian dari keberadaannya. Karenanya, film ini adalah buku harian penting yang perlu dibaca semua orang untuk memikirkan kembali posisinya masing-masing.
Sabine Fasawwa
Editor: Abdul Hadi
